390 Kali

SAMARINDA – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar utama dalam menentukan arah pembangunan daerah dan menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda ke depan.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Dialog Publika “LIVE” bertema Menentukan Arah Pembangunan dengan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar TVRI Kalimantan Timur di Studio 2 TVRI Kaltim, Jalan Ery Suparjan No. 1 Samarinda, Jumat (22/5/2026)

Dialog dipandu oleh Erwinsyah dan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala BPS Samarinda Supriyanto, Kepala Tim Implementasi KEKDA BI Kaltim Abraham Wahyu Nugroho, Kabid Pendapatan Pajak I Bapenda Samarinda Fitria Wahyuni, serta Pengamat Ekonomi Pembangunan Rian Hilmawan.

Dalam pemaparannya melalui Zoom dari Ruang Rapat Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyebut sensus ekonomi tidak sekadar mencatat angka statistik, melainkan menjadi refleksi kondisi ekonomi daerah sekaligus dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

“Kolaborasi dan sinergi antar semua elemen masyarakat itu begitu menentukan arah perjalanan masa depan kita. Sensus ekonomi tidak hanya sekadar mencatat angka, tetapi menjadi refleksi tantangan hari ini dan bagaimana kita mengonstruksi masa depan,” ujarnya.

Andi Harun memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Samarinda saat ini mencapai 6,22 persen atau masuk kategori top tier di antara kota-kota besar di Indonesia, bahkan berada di atas rata-rata nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak disikapi secara euforia berlebihan karena struktur pembentuk ekonomi Samarinda masih didominasi sektor konstruksi serta jasa perdagangan.

Menurutnya, sektor konstruksi masih sangat dipengaruhi aktivitas pembangunan dan belanja pemerintah melalui APBD, sehingga pertumbuhannya berpotensi melambat ketika aktivitas pembangunan menurun.


“Pertumbuhan ekonomi kita bagus, tapi pondasi pembentuknya masih didominasi konstruksi. Artinya, kita harus tetap waspada,” katanya.

Selain itu, sektor perdagangan juga dinilai rentan terhadap gangguan distribusi dan rantai pasok, mengingat sebagian besar bahan pokok dan material masih berasal dari luar daerah.

Di sisi lain, Andi Harun mengungkapkan inflasi Samarinda saat ini masih dalam kondisi aman dan terkendali, yakni berada di angka 2,90 persen atau masih di bawah rentang nasional 2,5 plus minus 1 persen.

Namun demikian, ia menyoroti sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, seperti kenaikan harga minyak goreng, cabai rawit, serta biaya transportasi udara yang dipengaruhi kenaikan harga avtur dan kebijakan tarif penerbangan nasional.

Lebih lanjut, Andi Harun menegaskan bahwa Pemerintah Kota Samarinda terus mendorong transformasi ekonomi dari sektor berbasis sumber daya alam menuju sektor jasa dan perdagangan yang lebih berkelanjutan.

Ia menyebut, saat ini Samarinda mulai meninggalkan ketergantungan terhadap sektor pengolahan berbasis sumber daya alam dan bertransformasi menjadi kota perdagangan dan jasa.

“Biarlah daerah-daerah lain menambang, nanti belanjanya di Samarinda,” ucapnya disambut suasana dialog yang cair.

Menurutnya, reformasi birokrasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah Kota Samarinda, kata dia, terus memperbaiki sistem perizinan agar lebih mudah, cepat, dan bebas pungutan liar.

Ia bahkan menyebut pemerintah harus bertransformasi menjadi the government entrepreneur yang adaptif terhadap dunia usaha dan investasi.


Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga menekankan bahwa data hasil Sensus Ekonomi 2026 nantinya akan menjadi dasar utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan, penguatan ekonomi daerah, hingga pemetaan investasi.

Mengutip pernyataan pakar data scientist Clive Humby, ia mengatakan “the data is the new oil”, lalu mengembangkan konsep tersebut menjadi “the data is the new infrastructure governance”.

“Data hasil sensus nantinya akan menjadi arah kebijakan pembangunan daerah, penguatan ekonomi, hingga panduan investasi dan pengembangan UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPS Samarinda Supriyanto menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 akan menghadirkan banyak perubahan dibandingkan sensus tahun 2016.

Menurutnya, perkembangan ekonomi digital seperti QRIS, BRILink, transportasi daring, influencer, jasa digital, hingga usaha berbasis media sosial kini akan masuk dalam pendataan.

Selain itu, metode pendataan juga telah bertransformasi sepenuhnya berbasis digital menggunakan aplikasi berbasis website maupun Android.

“Tidak ada lagi menggunakan kertas. Semua sudah berbasis aplikasi,” jelasnya.

Supriyanto juga menyebut sektor pertanian kembali dimasukkan dalam cakupan sensus karena banyak pelaku usaha pertanian kini telah mengembangkan produk turunan bernilai tambah seperti olahan hasil pertanian maupun perdagangan hasil produksi.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Pembangunan Rian Hilmawan menilai Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi backbone dalam membaca kondisi ekonomi riil Kota Samarinda.

Ia memprediksi sektor-sektor nontradisional seperti pariwisata, hiburan, akomodasi, serta ekonomi kreatif akan menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding satu dekade lalu.

“Pertumbuhan sektor akomodasi, makan minum, hiburan, dan ekonomi kreatif di Samarinda saat ini termasuk yang paling cepat,” ujarnya.(DON/KMF-SMR || FOTO: CHRIS DOKPIM)

Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Pernah Tinggal di Sumenep, Wawali Samarinda Kejutkan Warga IKM dengan Kemampuan Bahasa Madura

i
Berita Sebelumnya

Andi Harun Ajarkan Hukum Administrasi Pemerintahan di UMKT, Mahasiswa Antusias Ikuti Perkuliahan

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar