AMARINDA. KOMINFONEWS — Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun menegaskan pentingnya politik yang dibangun di atas pengetahuan, kapasitas, dan kedekatan dengan masyarakat. Menurutnya, politik tidak semestinya berhenti pada kontestasi, tetapi harus bermuara pada pengabdian.
Hal itu disampaikan Andi Harun saat menerima silaturahmi jajaran pengurus baru Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Samarinda periode 2025–2030 di Ruang Rapat Wali Kota, Lantai II Balai Kota Samarinda, Rabu (9/9/2026) siang.
Andi Harun didampingi Kepala Badan Kesbangpol Samarinda Yosua Laden, S.STP, M.Si, Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Syaparuddin, S.Sos dan sejumlah anggota TWAP lainnya. Sementara DPD PAN Samarinda dipimpin Ketua DPD PAN Suparno bersama pengurus periode 2025–2030.
Pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus memperkenalkan kepengurusan baru. Dialog juga berkembang pada isu perjalanan politik, kaderisasi, pembangunan daerah, serta pentingnya menyiapkan figur yang memiliki kapasitas dan mampu hadir di tengah masyarakat.
Bagi Andi Harun, pertemuan dengan PAN memiliki makna historis. PAN merupakan salah satu ruang awal yang memberinya pengalaman dan pendidikan politik. Dari partai tersebut, ia mengaku banyak memperoleh nilai, pengalaman kaderisasi, dan cara memahami politik. Jejak itu menjadi bagian penting dalam perjalanan panjangnya, hingga dipercaya memimpin Kota Samarinda.
“Dunia politik yang kita pahami, terutama saya sejak tahun 1999 di partai politik, saya selalu berusaha untuk menjadi seorang politisi saintis. Politik yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai basis analisis,” kata Andi Harun.
Ia menilai seorang politisi tidak cukup hanya mengandalkan popularitas atau pendekatan pragmatis. Politik membutuhkan kemampuan membaca persoalan secara mendalam, terus belajar, dan menjadikan pengetahuan sebagai pijakan dalam mengambil keputusan.
Menurut Andi Harun, kapasitas tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan perjalanan politik. Bahkan ketika seseorang tidak lagi berada dalam struktur partai, pengetahuan dan kemampuan berpikir tetap menjadi bekal dalam membaca perubahan.
“Kalau usia politik kita mau panjang, dan pada saat kita tidak punya partai politik sekalipun, kita harus menjadi seorang politisi yang berbasis saintis. Jadi tidak hanya mengandalkan pendekatan politik pragmatis semata, tetapi juga politik yang berbasis pada ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sebagai kepala daerah, Andi Harun mengatakan pengalaman politik harus mampu diterjemahkan ke dalam kemampuan memahami persoalan nyata masyarakat. Baginya, politik bukan sekadar upaya memenangkan kontestasi. Politik adalah proses mendengar, memahami, dan menerjemahkan aspirasi masyarakat menjadi gagasan serta kebijakan.
“Politik itu percakapan,” tegasnya.
Melalui percakapan, kata Andi Harun, seorang politisi dapat menangkap persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Percakapan yang dibangun dengan pengetahuan, akan melahirkan gagasan yang lebih substantif dan tidak berhenti pada slogan.
Karena itu, ia melihat sedikitnya tiga kekuatan yang perlu diperkuat partai politik. Pertama, struktur organisasi yang mengakar hingga tingkat bawah. Kedua, kualitas dan kapabilitas calon. Ketiga, kemampuan kader membangun komunikasi dengan masyarakat, termasuk melalui ruang digital dan media sosial. Namun, seluruh kekuatan tersebut tetap bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Andi Harun mengingatkan kader PAN agar tidak sekadar mengejar posisi politik. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan diri menjadi sosok yang layak dipercaya, mampu mengabdi, dan dapat menjadi representasi aspirasi masyarakat.
“Kita harus mempersiapkan orang yang berkualitas, orang yang siap mengabdi kepada masyarakat, orang yang siap menjadi tokoh, yang siap menjadi panutan, representasi politik dan aspirasi dari masyarakat,” pesannya.
Ia juga mendorong PAN Samarinda terus memperkuat kaderisasi. Menurutnya, partai politik membutuhkan kader yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan kebijakan politik.
“Kaderisasi jalan, teman-teman pengurus ini dan seluruh pengurus memperkuat basis strukturnya, dan yang ketiga adalah menjadi jembatan agregasi dan artikulasi suara-suara masyarakat di bawah,” jelasnya.
Bagi Andi Harun, perjalanan politik pada akhirnya harus kembali kepada tujuan utama, yakni pengabdian kepada masyarakat. Kepemimpinan, menurutnya, tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui proses belajar, kaderisasi, kemampuan membaca persoalan, kerja nyata, dan kepercayaan masyarakat.
Pengalaman panjang sejak mengenal politik melalui PAN menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Pengalaman itu terus berkembang melalui berbagai proses hingga membentuk cara pandangnya dalam menjalankan pemerintahan dan memimpin Samarinda.
Kini, pengalaman politik, pengetahuan, dan kemampuan membaca perubahan itu menjadi bekal Andi Harun dalam menjalankan kepemimpinan di Samarinda. Pesannya jelas. Politik yang berumur panjang bukan sekadar politik kekuasaan, melainkan politik yang melahirkan manusia berkualitas dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. (VE/HER/KMF-SMR | FOTO: BAY/DOKPIM)
Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda
Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda
Tinggalkan Komentar