8 Kali

SAMARINDA. KOMINFONEWS – Efisiensi anggaran yang dibarengi komitmen pada pelayanan publik dasar diwujudkan Pemerintah Kota Samarinda melalui pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan. Sebanyak tujuh satuan pendidikan resmi diresmikan Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun, Kamis (10/9/2026), di SD Negeri 013 Samarinda Utara, Jalan R.A. Kartini, Sukorejo, Lempake, Kecamatan Samarinda Utara.

Tujuh satuan pendidikan tersebut terdiri atas TK Negeri 6 Samarinda, TK Negeri 9 Samarinda, SD Negeri 013 Samarinda Utara, SD Negeri 011 Samarinda Kota, SD Negeri 012 Samarinda Seberang, SMP Negeri 43 Samarinda, dan SMP Negeri 50 Samarinda.

Peresmian dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri, Sekretaris Daerah Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti, para Asisten, Kepala Perangkat Daerah, Kepala Bagian, Camat hingga Lurah, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir pula Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Ibnu Araby bersama jajaran dari sejumlah satuan pendidikan negeri dan swasta. Turut hadir unsur Forkopimda serta Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda Ismail Latisi.

Andi Harun mengatakan, peresmian tersebut bukan sekadar seremoni untuk menandai selesainya pembangunan fisik sekolah. Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan merupakan bukti bahwa efisiensi anggaran tetap dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan dasar masyarakat.

“Hari ini bukan sekadar monumen, acara ini, tapi momentum. Momentum kita mewujudkan untuk kesekian kalinya bahwa jika kita melakukan efisiensi anggaran dan berkomitmen pada hal-hal yang bersifat pelayanan publik dan dasar, terutama pendidikan dan kesehatan, maka bisa berwujud seperti hari ini,” ujar Andi Harun.

Ia mengapresiasi kualitas bangunan tujuh satuan pendidikan yang dinilai sudah sangat baik. Namun, ia mengingatkan keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari kondisi fisik sekolah.

“Ada tujuh satuan pendidikan yang kita resmikan dari TK, SD sampai SMP, dan kualitas bangunannya sangat bagus. Tapi seperti tadi yang saya sampaikan, yang kita mau lihat hari ini bukan cuma sekolahnya yang menjadi bagus, tapi transformasi pendidikannya,” katanya.


Pembangunan dan rehabilitasi tujuh satuan pendidikan tersebut dilakukan dengan bentuk penanganan berbeda sesuai kondisi masing-masing sekolah. Program tersebut mencakup pembangunan unit sekolah baru, rehabilitasi ruang kelas, serta perbaikan sarana, prasarana dan utilitas pendidikan.

TK Negeri 6 Samarinda di Gang Sayur, Kelurahan Sempaja Utara, misalnya, sebelumnya menggunakan bangunan lama yang berada dalam satu lingkungan dengan SD. Kondisi bangunan mengalami kerusakan cukup berat dan kerap terdampak banjir.

Melalui pembangunan baru, TKN 6 kini memiliki ruang pembelajaran, ruang inklusi, UKS, ruang kepala sekolah, perpustakaan, toilet dan fasilitas pendukung lainnya.

Sementara TK Negeri 9 Samarinda di Jalan Biola, Kompleks Prefab Segiri, Kelurahan Sungai Pinang Luar, sebelumnya menggunakan bangunan kayu dan menghadapi persoalan banjir serta drainase. Rehabilitasi dilakukan secara total dengan meninggikan lahan sekitar 1,2 meter, disertai pembangunan ruang kelas dan fasilitas pendukung.

Di SDN 011 Samarinda Kota, rehabilitasi dilakukan terhadap bangunan yang sebelumnya sebagian masih semi permanen. Perbaikan mencakup ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan dan UKS, sekaligus pembaruan struktur bangunan dan penataan lingkungan sekolah.

Sedangkan SDN 013 Samarinda Utara menjadi salah satu sekolah yang menghadapi persoalan banjir. Sebagian bangunan lama masih berbahan kayu dan sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan akibat genangan.


Rehabilitasi total dilakukan dengan meninggikan lahan sekitar 1,2 meter. Bangunan utama kini menjadi dua lantai, dengan penambahan ruang kelas dari sebelumnya tiga menjadi delapan ruang, termasuk fasilitas UKS, perpustakaan, toilet dan perabot pembelajaran.

Sementara SDN 012 Samarinda Seberang sebelumnya menghadapi keterbatasan ruang belajar dan sebagian bangunan masih semi permanen. Setelah direhabilitasi total, sekolah kini memiliki gedung baru dua lantai dengan kapasitas 18 ruang kelas, dilengkapi UKS, perpustakaan, ruang guru, toilet serta perabot pembelajaran.

Secara keseluruhan, pembangunan dan rehabilitasi tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman dan layak, sekaligus mendukung proses pembelajaran yang lebih optimal.

Menurut Andi Harun, peningkatan kualitas fasilitas tersebut menjadi bagian awal dari pekerjaan yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Ia mengingatkan bahwa revolusi industri, perkembangan teknologi informasi dan perubahan struktur pekerjaan akan membuat persaingan sumber daya manusia semakin ketat.

“Landscape lapangan kerja di masa depan juga berubah, struktur pekerjaan berubah, lalu kemudian kompetisi antarnegara, antarbangsa, kompetisi sumber daya manusia makin kompetitif di masa yang akan datang,” jelasnya.


Karena itu, sekolah harus menjadi ruang tempat masa depan dibangun.

“Pendidikan kita menjadi momentum, ruang kemajuan itu lahir dari ruang-ruang kelas yang ada di sekolah-sekolah kita. Masa depan itu dibangun dari ruang-ruang kelas kita, termasuk kemajuan Samarinda kita harapkan dibangun dari ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah kita,” tegasnya.

Andi Harun juga mendorong transformasi pendidikan Samarinda diarahkan pada pembangunan ekosistem talenta. Sekolah diharapkan mampu membantu setiap peserta didik menemukan bakat dan potensi masing-masing.

“Guru yang hebat itu kalau ia bisa membimbing siswanya dan siswanya bisa ketemu potensinya,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah ke depan perlu memiliki basis data mengenai bakat dan potensi peserta didik. Langkah itu kemudian didukung tiga unsur penting, yakni guru yang unggul, teknologi pendidikan dan kurikulum yang adaptif.

“Apapun model kurikulum yang menjadi kebijakan nasional, tetap kurikulum itu dijadikan sebagai satu kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan dan potensi siswa di sekolah,” katanya.

Di tengah tuntutan peningkatan kompetensi, Andi Harun menekankan pendidikan karakter tidak boleh tertinggal. Ia mengingatkan, kemajuan pendidikan tanpa karakter dan moralitas justru dapat melahirkan generasi yang pintar tetapi mengalami krisis etik.

“Karena kemajuan tanpa lahirnya pendidikan karakter dan moralitas, kita akan melahirkan generasi yang pintar tapi krisis etik,” tegasnya.


Ia menitipkan tiga nilai yang harus tumbuh di lingkungan pendidikan, yakni integritas, tanggung jawab dan empati.

Pendidikan antikorupsi dan antisuap juga perlu mulai ditanamkan sejak sekolah melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan persoalan sampah sebagai bagian dari pembentukan rasa tanggung jawab.

“Sampahku adalah tanggung jawabku. Jangan bilang sampahku tanggung jawabnya DLH,” ujarnya.

Selain itu, siswa perlu dibiasakan berkolaborasi, saling membantu dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Kalau kita berkolaborasi itu mendidik kita untuk empati, care, peduli,” katanya.

Andi Harun juga menekankan pentingnya nasionalisme dan spiritualitas dalam pendidikan.

Ia berharap tujuh satuan pendidikan yang telah dibangun dan direhabilitasi dapat dijaga serta dimanfaatkan secara optimal, bukan hanya sebagai fasilitas belajar, tetapi juga sebagai ruang untuk menemukan talenta, membentuk karakter dan mempersiapkan generasi Samarinda menghadapi masa depan.

“Tidak pernah ada pohon besar yang tidak dimulai dari kita menanam benih yang paling kecil. Dan kita akan menyaksikan itu kalau selama prosesnya diliputi dengan kesabaran,” ujarnya. (DON/KMF-SMR || FOTO: AFDANI DOKPIM)





Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Kemarau Panjang Belum Berakhir, Pemkot Samarinda Gelar Doa Bersama, Santuni Yatim Piatu dan Siapkan Salat Istisqa

i
Berita Sebelumnya

Saefuddin Zuhri kepada 200 Pramuka: Raimuna Bukan Sekadar Berkemah, Tapi Membentuk Karakter dan Jiwa Kepemimpinan

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar