21 Kali

SAMARINDA. KOMINFONEWS — Malam itu, Jalan Marsda A Saleh di Samarinda Ilir terasa berbeda. Dari kejauhan, suara selawat terdengar bersahutan. Ribuan jemaah terus berdatangan, memenuhi pelataran hingga area utama Majelis Taklim Nurul Amin, Minggu (16/8/2026) malam.

Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara keagamaan. Mereka datang untuk kembali mengingat sosok yang menjadi teladan umat sepanjang zaman: Nabi Muhammad SAW.

Di tengah lautan jemaah itu, Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun dan Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri, SE, MM, turut hadir dan larut dalam suasana kebersamaan. Tidak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat malam itu. Semuanya duduk dalam satu majelis, mendengarkan tausiah, berselawat, dan menyatukan doa.

Pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana tentang wajah Samarinda yang ingin terus dirawat: kota yang maju, tetapi tetap memiliki akar spiritual dan sosial yang kuat.

Bagi Andi Harun dan Saefuddin Zuhri, kehadiran di tengah masyarakat bukan sekadar memenuhi undangan. Ruang-ruang keagamaan seperti ini menjadi kesempatan untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga komunikasi dengan para ulama serta masyarakat.


Sebab pembangunan sebuah kota tidak hanya berbicara tentang jalan, jembatan, gedung, dan infrastruktur. Ada pula pembangunan manusia, karakter, persaudaraan, serta nilai-nilai yang menjaga masyarakat tetap berjalan dalam harmoni.

Malam itu kemudian menghadirkan satu momen yang tidak biasa. Pimpinan Majelis Taklim Nurul Amin, KH Muhammad Zhofaruddin mengajak seluruh pejabat daerah dan jemaah untuk berdiri. Sesaat kemudian, Indonesia Raya menggema. Disusul Hari Merdeka dan Garuda Pancasila.

Ribuan suara menyatu. Di satu sisi, majelis itu menjadi ruang untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Di sisi lain, semangat kemerdekaan terasa begitu kuat. Terlebih bangsa Indonesia tengah menyambut peringatan Hari Kemerdekaan ke-81.

Shalawat dan lagu kebangsaan pun bertemu dalam satu ruang. Pesannya sederhana, tetapi dalam: menjadi umat yang mencintai Rasulullah SAW tidak berarti menjauh dari kecintaan kepada Tanah Air. Sebaliknya, nilai kasih sayang, persaudaraan, kedamaian, dan keteladanan yang diajarkan Rasulullah dapat menjadi kekuatan dalam merawat kehidupan kebangsaan.

Andi Harun dan Saefuddin Zuhri berdiri bersama para ulama dan jemaah. Sebuah simbol bahwa pemerintah, ulama, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga Samarinda tetap damai dan bersatu.


Dalam tausiahnya, Guru KH Jamaluddin mengajak jemaah melihat kembali makna kehadiran Nabi Muhammad SAW bagi kehidupan manusia. Rasulullah SAW diutus sebagai rahmatan lil alamin, yakni rahmat bagi seluruh alam.

Pesan itu mengajarkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, menyayangi makhluk hidup, serta menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat. Pesan tersebut terasa relevan bagi Samarinda yang terus tumbuh sebagai kota dengan masyarakat yang beragam.

Sementara itu, KH Muhammad Zhofaruddin membawa jemaah masuk lebih dalam pada makna spiritual Maulid. Ia mengingatkan bahwa perjalanan seorang manusia menuju rida Allah SWT membutuhkan keteladanan dan bimbingan. Nabi Muhammad SAW menjadi teladan utama dalam menjalankan kehidupan, baik dalam ibadah maupun dalam hubungan sosial.

Ia juga mengajak jemaah tidak menjadikan ibadah sebagai rutinitas semata. Salat, membaca Al-Fatihah, rukuk, sujud, serta pemahaman tentang syariat, hakikat, tauhid, dan tasawuf harus senantiasa diarahkan pada keteladanan Rasulullah SAW.


Majelis, menurutnya, juga menjadi ruang untuk mengisi kembali kekuatan batin. Seperti baterai yang membutuhkan energi, manusia pun membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, memperbaiki diri, dan kembali menguatkan hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Malam semakin larut. Namun, ribuan jemaah tetap bertahan hingga rangkaian kegiatan berakhir. Ada yang datang bersama keluarga. Ada yang datang bersama kelompok pengajian. Ada pula yang datang sendiri. Tetapi malam itu mereka duduk dalam satu ruang dan membawa tujuan yang sama: berselawat, mendengarkan nasihat, dan memperkuat silaturahmi. Di situlah kekuatan sebuah majelis terlihat. Ia bukan hanya tempat berkumpul. Ia menjadi ruang bertemunya hati.

Kehadiran Andi Harun dan Saefuddin Zuhri bersama para ulama dan jemaah memperlihatkan bahwa pembangunan Samarinda juga memiliki dimensi yang lebih dalam, yakni membangun manusia yang memiliki kepedulian, rasa persaudaraan, semangat kebangsaan, dan keteguhan spiritual.

Sebab kota yang kuat bukan hanya kota dengan infrastruktur yang baik. Kota yang kuat adalah kota yang masyarakatnya saling menjaga.

Dan malam itu, di tengah gema selawat dan lagu kebangsaan, Samarinda kembali mengingat satu hal penting: kemajuan akan jauh lebih bermakna ketika berjalan bersama iman, persaudaraan, dan cinta Tanah Air. (ACL/HER/KMF-SMR | FOTO:JEF/DOKPIM)

Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Hening di Tengah Malam, Andi Harun Ajak Masyarakat Teruskan Perjuangan Para Pahlawan

i
Berita Sebelumnya

42 Paskibraka Samarinda Dikukuhkan, Andi Harun: Kalian Putra-Putri Terbaik Kota Ini

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar