SAMARINDA, KOMINFONEWS – Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, memberikan arahan strategis kepada jajaran Perumdam Tirta Kencana agar segera melakukan pembenahan menyeluruh berbasis data dalam Rapat Evaluasi Kinerja Perumdam Tirta Kencana Semester I Tahun 2026 yang digelar di Ruang Rapat Wali Kota Lantai II Balai Kota Samarinda, Kamis (6/8/2026).
Rapat yang dipimpin langsung Wali Kota tersebut dihadiri Wakil Wali Kota H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M., Sekretaris Daerah Neneng Chamelia Shanti, S.T., M.Si., Asisten II, Kepala BAPPERIDA, Kepala BPKAD, Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Direksi Perumdam Tirta Kencana, serta Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda.
Dalam evaluasinya, Andi Harun menyoroti sejumlah indikator kinerja yang dinilai masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, jumlah pelanggan Perumdam bertambah sekitar 8.000 sambungan, sehingga volume air terjual seharusnya terus meningkat, pendapatan naik, dan laba perusahaan tidak boleh merosot. Ia menegaskan hal-hal tersebut tersebut tidak boleh dijawab dengan asumsi semata, melainkan harus diurai berdasarkan data yang akurat agar akar persoalan dapat ditemukan.
"Kalau kita tahu penyakitnya secara tepat, maka kita juga bisa menentukan obatnya secara presisi. Jangan hanya menyampaikan asumsi, tetapi tunjukkan data yang menjelaskan penyebab penurunan itu," tegasnya.
Wali Kota meminta Dewan Pengawas dan Direksi segera melakukan analisis menyeluruh terhadap kemungkinan penyebab penurunan laba, mulai dari perubahan pola konsumsi pelanggan, perubahan struktur pelanggan, persoalan distribusi, hingga akurasi pencatatan meter air. Bahkan, ia mendorong Perumdam mulai memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu analisis agar proses identifikasi persoalan menjadi lebih cepat dan akurat.

"Sudah tidak bisa lagi kita menghindari penggunaan AI. AI bukan pengganti direksi atau manajer, tetapi alat untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar berbasis data," ujarnya.
Selain itu, Andi Harun meminta perubahan orientasi perusahaan. Menurutnya, Perumdam tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan, tetapi juga harus memastikan setiap penambahan pelanggan memberikan kontribusi terhadap peningkatan laba perusahaan. Ia juga meminta seluruh investasi yang telah dilakukan dievaluasi secara terukur melalui perhitungan "Return on Investment (ROI), payback period, Internal Rate of Return (IRR), serta kontribusi masing-masing aset terhadap pendapatan perusahaan.
Persoalan Non-Revenue Water (NRW) atau kehilangan air juga menjadi perhatian serius. Meski terjadi sedikit penurunan, menurutnya angka NRW yang masih berada di kisaran 39 persen belum dapat dikatakan ideal. Karena itu, ia meminta Perumdam menyusun "dashboard harian NRW" hingga tingkat zona, DMA, IPA, kecamatan bahkan kelurahan agar kebocoran air dapat dipantau secara presisi serta memiliki target penurunan yang realistis setiap tahun.
"Setiap penurunan satu persen NRW harus bisa dihitung berapa tambahan laba yang dihasilkan dan berapa kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)," katanya.
Arahan lain yang menjadi perhatian adalah percepatan penggantian water meter. Wali Kota menilai penurunan jumlah penggantian meter bertentangan dengan target penurunan NRW. Ia meminta Direksi bersama Dewan Pengawas segera menyusun roadmap penggantian meter secara bertahap, dimulai dari pelanggan industri, niaga, instansi pemerintah hingga pelanggan rumah tangga sesuai kemampuan keuangan perusahaan.

Di bidang pelayanan, Andi Harun juga meminta Perumdam menetapkan "Key Performance Indicator (KPI)" yang jelas, baik untuk pemasangan sambungan baru maupun penanganan pengaduan pelanggan. Menurutnya, masyarakat harus mengetahui secara pasti standar waktu pelayanan, termasuk progres penyelesaian setiap keluhan melalui sistem informasi yang dapat diakses publik.
"Kalau memang perbaikannya membutuhkan dua hari, sampaikan kepada pelanggan. Yang penting masyarakat mengetahui bahwa keluhannya sudah ditindaklanjuti dan kapan diperkirakan selesai," ujarnya.
Dalam aspek efisiensi, Wali Kota menilai penghematan operasional berskala kecil tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Ia meminta fokus efisiensi diarahkan pada sektor yang memiliki pengaruh besar terhadap biaya operasional, seperti konsumsi energi pompa, optimalisasi jaringan, digitalisasi layanan, pengelolaan aset, serta penerapan sistem manajemen aset berbasis AI.
Ia juga menginstruksikan perubahan sistem penilaian kinerja perusahaan agar lebih menitikberatkan pada indikator finansial seperti "Return on Equity (ROE), arus kas, PAD, hingga nilai NRW dalam rupiah, disertai indikator pelayanan pelanggan, proses internal, digitalisasi, dan peningkatan kompetensi SDM.
Menutup arahannya, Andi Harun menetapkan sejumlah target yang harus menjadi fokus Perumdam pada Semester II Tahun 2026, yakni meningkatkan laba perusahaan, menurunkan NRW, melanjutkan program penggantian meter air, mengoptimalkan pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air (IPA), serta melakukan evaluasi berkala terhadap seluruh investasi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi perusahaan dan masyarakat. (SYM/ASYA/KMF-SMR | FOTO: ARI-DOKPIM)
Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda
Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda
Tinggalkan Komentar