106 Kali

SAMARINDA.KOMINFONEWS-Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda serius bergerak menuntaskan persoalan kawasan kumuh yang selama ini menghantui dua titik strategis di jantung kota yakni Kampung Tenun dan kawasan Waterfront City Lambung Mangkurat.

Lewat rapat pembahasan penanganan dua kawasan itu pada Senin (25/5/2026) siang di gedung Balai Kota, Wali Kota Samarinda Dr H Andi Harun langsung tancap gas dengan pesan tegas kepada seluruh OPD, jangan hanya pandai bernarasi, buktikan dengan angka dan hasil nyata di lapangan.

“Kalau bicara pembangunan, ukurannya adalah hasil dan angka. Setiap OPD harus mampu menunjukkan kontribusi nyata terhadap penurunan kawasan kumuh, peningkatan kualitas lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Orang nomor satu di kota tepian ini juga mengingatkan seluruh perangkat daerah agar lebih adaptif di tengah tekanan fiskal akibat kebijakan efisiensi anggaran nasional. Program pembangunan, kata dia, harus disusun realistis, tepat sasaran, dan memberi dampak langsung ke masyarakat bukan sekadar kegiatan administratif.

“Kita harus hati-hati menjaga APBD agar tetap sehat. Prioritas kita adalah memastikan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat tetap berjalan,” ujarnya.

Sementara, Wakil Wali Kota H Saefuddin Zuhri menegaskan, penanganan kawasan kumuh bukan urusan satu instansi. Butuh gerak bersama lintas sektor mulai dari perbaikan jalan lingkungan, drainase, sanitasi, pengelolaan sampah, proteksi kebakaran, hingga perubahan perilaku hidup warga.


“Koordinasi antar-OPD harus diperkuat. Semua harus terlibat sesuai tugas dan kewenangannya agar penanganan ini bisa berjalan maksimal,” katanya.

Wawali juga mendorong agar rencana yang sudah matang segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Masyarakat, kata dia, butuh kepastian dan percepatan bukan sekadar janji di atas kertas.

Dalam paparan teknis, Kepala Bidang Kawasan Permukiman, Disperkim Samarinda, Ronny Surya ST, mengungkapkan progres yang cukup menggembirakan. Berdasarkan SK Wali Kota Tahun 2020, luas kawasan kumuh Samarinda tercatat 70,51 hektare. Kini, angka itu berhasil dipangkas menjadi 26,83 hektare.

Namun Kampung Tenun masih jadi pekerjaan rumah besar. Kawasan ini menurutnya masih menyisakan 5,73 hektare kumuh, terutama di wilayah sempadan sungai. Kondisi di lapangan cukup memprihatinkan: mayoritas bangunan masih berupa rumah kayu tidak permanen, sanitasi buruk, rawan banjir, dan rentan kebakaran.


Meski ditata ulang, Pemkot Samarinda tidak ingin menghilangkan roh Kampung Tenun sebagai pusat budaya dan ekonomi kreatif. Konsep yang disiapkan adalah hunian terintegrasi dengan ruang usaha masyarakat mempertahankan identitas kawasan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuninya.

Desain penataan pun bakal menonjolkan karakter arsitektur lokal perpaduan budaya Kutai, Bugis, dan Indis agar nilai historis kawasan tidak luntur ditelan modernisasi.

Dengan penataan ini, Pemkot Samarinda menargetkan Kampung Tenun dan Waterfront City Lambung Mangkurat tidak sekadar bebas dari predikat kumuh, tetapi menjelma menjadi kawasan permukiman sehat, produktif, dan punya daya tarik wisata budaya yang bisa mengundang pengunjung dari mana saja. (YAS/FER/KMF-SMR | FOTO: TOM/DOKPIM)

Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

12 Tahun Berturut Raih WTP, Wali Kota Sebut Momentum Perkuat Integritas

i
Berita Sebelumnya

Lepas Purnatugas Lurah Lempake, Wawali Saefuddin Zuhri Apresiasi Dedikasi

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar