SAMARINDA, KOMINFONEWS – Patroli udara penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kota Samarinda kembali dilakukan untuk memastikan titik-titik api yang masih berpotensi meluas dapat segera ditangani. Dari pemantauan udara tersebut, ditemukan sejumlah titik yang memerlukan penanganan lanjutan melalui water bombing.
Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M., mengatakan hasil pemantauan menunjukkan terdapat beberapa titik di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) yang perlu dilakukan penyiraman menggunakan helikopter.
“Ya, hasil pemantauan untuk Tahura itu ada beberapa. Saat ini ada beberapa titik yang harus ditembak nanti, atau disiram air dengan helikopter. Itu sudah kita identifikasi bersama kapten tadi, satu, dua, tiga, dan lain sebagainya,” ujar Saefuddin Zuhri usai melakukan patroli udara Karhutla, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, di wilayah Kota Samarinda terdapat sekitar lima titik yang terpantau. Dari jumlah tersebut, dua titik menjadi perhatian karena memiliki luasan kebakaran yang lebih besar.
Salah satu titik tersebut berada di wilayah Bantuas, Kecamatan Palaran. Kondisi api di kawasan itu bahkan telah menyeberang jalan sehingga membutuhkan penanganan secara cepat dan terpadu.
“Untuk di Kota Samarinda sekitar berapa tadi ya? Lima lah ya, lima titik. Tapi yang paling besar ada dua titik. Salah satunya ada di Bantuas, itu sudah menyeberang jalan. Insyaallah dari BPBD akan mengeksekusi untuk api yang di jalan tadi,” jelasnya.
Saefuddin menjelaskan, pemadaman dari udara sebelumnya telah dilakukan. Namun, distribusi air dari udara belum sepenuhnya mampu memadamkan bara yang berada di bagian bawah lahan.
“Tadi pagi sudah diupayakan, ditembak lagi. Begitu istirahat, karena tembakan dan beban air itu satu ton, kan menyebar. Otomatis tidak sampai ke bawah. Bagian bawah itu belum padam,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Saefuddin, penanganan Karhutla membutuhkan kombinasi pemadaman dari udara dan darat. Pemantauan kembali dilakukan untuk memastikan titik api yang sempat disiram tidak kembali menjalar melalui bara di bawah permukaan.
“Kita lakukan lagi. Setelah istirahat, terus kita cek lagi. Ternyata masih ada bara dari bawah yang terus menjalar. Memang harus ada dari udara dan dari darat. Itu kuncinya untuk pemadaman api,” tegasnya.
Patroli udara tersebut dilakukan menggunakan helikopter yang berangkat dari Lapangan Udara APT Pranoto Samarinda pada pukul 14.35 WITA dan berakhir sekitar pukul 15.15 WITA. Wakil Wali Kota didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso, A.Ks., M.Si.
Penggunaan helikopter water bombing merupakan bagian dari penguatan operasi Pemkot Samarinda dalam menghadapi meningkatnya ancaman Karhutla di tengah kondisi kemarau dan kekeringan. Sebelumnya, helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai dioperasikan dari kawasan Bandara APT Pranoto Samarinda sejak Selasa (8/9/2026).

Dalam operasi tersebut, kawasan Bantuas menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Helikopter water bombing diarahkan untuk mengambil air dari void di kawasan tersebut dan selanjutnya digunakan dalam upaya pemadaman. Pemkot Samarinda juga menegaskan bahwa wilayah operasi tidak hanya terbatas pada Bantuas, tetapi mencakup seluruh kawasan yang memiliki potensi Karhutla sesuai kondisi di lapangan.
Pemantauan dari udara sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan Karhutla tidak hanya berhenti pada pemadaman api yang terlihat, tetapi juga mengantisipasi bara yang masih berada di bawah permukaan dan berpotensi kembali menjalar.
Dengan dukungan water bombing dari udara dan pengerahan personel dari darat, Pemkot Samarinda terus memperkuat koordinasi melalui BPBD bersama unsur terkait agar titik-titik Karhutla dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (MAF/ASYA/KMF-SMR | FOTO: JIR/DOKPIM)
Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda
Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda
Tinggalkan Komentar