SAMARINDA. KOMINFONEWS - Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Raya Darussalam Samarinda berlangsung khidmat, Sabtu (21/3/2026). Momen ini menjadi istimewa saat Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun tampil sebagai khatib dan menyampaikan khotbah yang kuat, reflektif, serta sarat pesan moral.
Dari atas mimbar, Andi Harun membuka khotbah dengan puji syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan intonasi tenang namun tegas, ia mengajak jemaah mensyukuri kesempatan menjalani Ramadan, seraya berharap seluruh amal ibadah diterima dan menjadi bekal ketakwaan.
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Namun menurut dia, ukuran keberhasilan Ramadan tidak berhenti pada ritual, melainkan pada sejauh mana nilai-nilai yang ditempa selama sebulan penuh tetap hidup setelahnya.

“Ramadan adalah madrasah. Pertanyaannya, apakah kita lulus atau kembali seperti semula,” tegasnya.
Dalam penekanan yang tajam, Andi Harun membedakan dua tipologi manusia: 'Ramadaniyun' dan 'Rabbaniyun'. Ramadaniyun, kata dia, hanya taat saat Ramadan. Sementara Rabbaniyun menjadikan Ramadan sebagai titik awal konsistensi dalam ketaatan sepanjang hayat. Ia mengingatkan pandangan ulama klasik yang menyebut, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang hanya mengenal Allah saat Ramadan.
Khotbah kemudian mengarah pada implementasi nilai. Kejujuran, amanah, dan pengendalian diri, menurut dia, justru diuji setelah Ramadan usai. Ia menyinggung realitas kehidupan modern, termasuk derasnya arus informasi di era digital.
“Setiap ucapan dan tulisan akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya, mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan etika bermedia.

Sebagai kepala daerah, Andi Harun juga menyampaikan pesan lintas peran. Pemimpin, pejabat, pelaku usaha, hingga keluarga, kata dia, memikul tanggung jawab moral dan spiritual yang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Khotbahnya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan integritas.
Ia menegaskan, Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan momentum evaluasi diri. Apakah Ramadan telah membentuk karakter dan akhlak, atau hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti.
Pada bagian akhir, Andi Harun merumuskan tiga fondasi utama untuk menjadi pribadi 'Rabbaniyun', yakni khauf (takut kepada Allah), raja’ (harap akan rahmat-Nya), dan istiqomah (konsistensi dalam ketaatan). Ketiganya menurut dia, adalah kunci menjaga kualitas iman agar tetap hidup selepas Ramadan.

Khotbah ditutup dengan ajakan menjaga cahaya keimanan agar tidak padam oleh godaan dunia, serta terus beribadah hingga akhir hayat.
Dalam pelaksanaan salat tersebut, Imam dipimpin Ustaz H. Masruri Al-Hafidz dan Bilal Ustaz H. Syafrul Khair. Panitia juga mencatat penghimpunan zakat yang meliputi zakat harta Rp74.440.000, zakat fitrah Rp312.860.000, fidyah Rp19.550.000, serta infak Rp3.470.000, dengan total mencapai Rp410.320.000.
Kehadiran Andi Harun sebagai khatib bukan hal baru. Ia dikenal aktif menyampaikan khotbah pada Salat Jumat dan momentum hari besar keagamaan. Peran ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai pemimpin administratif, tetapi juga figur yang konsisten menghadirkan pesan moral dan spiritual di tengah masyarakat. (MAF/HER/KMF-SMR | FOTO: ARY/DOKPIM)
Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda
Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda
Tinggalkan Komentar