1185 Kali

SAMARINDA.KOMINFONEWS — Pemerintah Kota Samarinda menegaskan bahwa Produk Unggulan Daerah (PUD) tidak seluruhnya harus diarahkan untuk mengejar pendapatan asli daerah (PAD). Dalam pemaparan hasil kajian penentuan PUD yang disusun dalam bentuk policy brief, Wali Kota Samarinda menekankan pentingnya pembagian peran strategis PUD, mulai dari penggerak utama ekonomi hingga penguat identitas dan budaya kota.

Penegasan tersebut disampaikan Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun saat Paparan Kajian Penentuan Produk Unggulan Daerah Kota Samarinda oleh Tim Kelitbangan Pemerintah Kota Samarinda, hasil kerja sama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Samarinda dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, yang berlangsung di Ruang Rapat Wali Kota Balai Kota Samarinda, Kamis (5/2/2026).

Sebelumnya Paparan disampaikan oleh Tim Penyusun melalui dokumen Policy Brief Pemetaan Potensi Sumber Daya Alam, Sektor, dan Produk Unggulan Kota Samarinda. Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda Syaparuddin bersama anggota Tejo Sutarnoto dan Tri Wahyuni, Kepala Bapperida Samarinda Ananta Fathurazzi beserta jajaran, serta Ketua Tim Penyusun FEB Unmul Dr. Zainal bersama tim.

Dalam arahannya, Wali Kota Samarinda menyampaikan apresiasi atas kajian yang disusun secara akademis dan berbasis data. Menurutnya, policy brief ini menjadi pijakan penting bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan.

“Saya sangat menyukai kebijakan yang berbasis kajian seperti ini. Ada bantalan akademisnya, sehingga memberi kepercayaan diri bagi saya dalam mengambil keputusan, baik secara politis, publik, maupun dari sisi kehati-hatian terhadap penggunaan anggaran,” ujar Wali Kota.


Ia juga menegaskan bahwa tidak seluruh kebijakan pembangunan harus selalu diukur dari pengembalian investasi secara langsung terhadap pemerintah daerah. Dalam banyak hal, manfaat kebijakan justru dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Kalau dampaknya besar bagi masyarakat, tidak apa-apa pemerintah tidak memperoleh manfaat langsung. Seperti pembangunan pasar, kalau mau dihitung pengembaliannya, hampir tidak mungkin kembali. Tapi manfaatnya besar karena memfasilitasi perputaran ekonomi dan memberi ruang usaha bagi ribuan orang,” jelasnya.

Dalam arahannya, Wali Kota memberikan sejumlah masukan strategis terhadap rekomendasi tim penyusun, salah satunya agar PUD dibagi ke dalam tiga level strategis.

Tiga level tersebut meliputi PUD inti yang diproyeksikan sebagai economic engine atau mesin penggerak utama ekonomi kota, PUD pendukung sebagai multiplier sector yang memperkuat dampak ekonomi, serta PUD identitas dan budaya yang tidak semata-mata diukur dari aspek keuntungan.

“Kita jangan campur. Yang memang mau jadi budaya, tidak perlu dihitung untung ruginya. Seperti Sarung Samarinda, itu bukan soal laba, tapi soal memperkenalkan budaya,” ungkapnya.

Menurut Wali Kota, produk budaya bukan sekadar simbol, melainkan identitas yang melekat dan dikenali lintas wilayah. Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Afrika tetap mengenakan warna warni ke mana pun mereka pergi, perempuan India dengan pakaian sari, hingga makanan yang menjadi penanda budaya suatu bangsa.

“Bahkan makanan itu identitas. Ada roti cane, nasi samin, dan lain-lain. Itu bukan sekadar konsumsi, tapi pengenal budaya,” ujarnya.

Dalam konteks kuliner, Wali Kota menyinggung rumah makan Padang sebagai contoh kuat bagaimana produk berbasis budaya mampu diterima oleh semua kalangan.

“Saya belum pernah melihat rumah makan yang bisa diterima semua suku seperti rumah makan Padang. Orang Papua, Jawa, Bugis, semua masuk. Bahkan kemarin, ketika rumah makan Padang di Singapura mau tutup, sampai ada menteri yang turun tangan,” katanya.


Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan kebijakan penataan kota yang telah dilakukan Pemerintah Kota Samarinda, salah satunya melalui penguatan identitas lokal di ruang publik.

“Kalau dilihat sekarang, kenapa median jalan saya ganti, itu bukan sekadar jejeran beton. Di situ ada identitas Sarung Samarinda. Di Citra Niaga juga, lantainya bercorak Sarung Samarinda,” tegasnya.

Selain pembagian level PUD, Wali Kota juga menekankan pentingnya membangun ekosistem dan hilirisasi, sehingga produk unggulan tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki produk turunan yang memperluas manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Menurutnya, PUD yang memiliki potensi ekonomi kuat akan didorong secara serius sebagai mesin penggerak ekonomi kota. Sementara PUD yang berbasis budaya tetap memiliki nilai strategis sebagai modal sosial dan budaya, meskipun tidak diarahkan untuk mengejar pendapatan daerah.

Masukan dan arahan tersebut diharapkan dapat diinternalisasi dalam policy brief yang telah disusun, sehingga menjadi dasar kebijakan yang lebih matang dalam mendorong pembangunan ekonomi Kota Samarinda yang kuat, berkelanjutan, serta berakar pada identitas lokal.

“Kalau bisa diterima dan diinternalisasi dalam policy brief ini, alhamdulillah. Kalau tidak, mungkin bisa dikonstruksi dalam bentuk kebijakan lain,” pungkasnya.(DON/JUAN-KMF/SMR || FOTO: TOMMY DOKPIM)


Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Wali Kota Samarinda Tegaskan Komitmen Dukung Kontingen KTNA ke Penas XVII Gorontalo

i
Berita Sebelumnya

Perkuat Komitmen Pemenuhan Hak Anak, Kota Samarinda Ikuti Kick Off Meeting Evaluasi Kota Layak Anak Tahun 2026

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar