959 Kali

SAMARINDA.KOMINFONEWS – Seiring penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 19 Februari 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan ketersediaan pasokan komoditas pangan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga tetap terkendali dalam menyambut momentum bulan suci Ramadan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Wakil Wali Kota Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, SE, MM, yang memimpin rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TIPD) Kota Samarinda di Ruang Rapat Wawali Lantai III, Gedung Balaikota Samarinda, Rabu (18/2/2026).

Rapat koordinasi mingguan ini merupakan tindak lanjut arahan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri RI, Tomsi Tohir, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang rutin digelar secara virtual dan diikuti seluruh kepala perangkat daerah se-Indonesia.

Dalam arahannya, Tomsi Tohir menegaskan bahwa pengendalian harga pangan harus menjadi prioritas utama menjelang Ramadan agar masyarakat tidak terbebani kenaikan harga.

“Urusan utama kita hari ini adalah bagaimana mengantisipasi kenaikan harga sebelum memasuki bulan Ramadan. Jangan sampai Ramadan belum masuk, tetapi harga sudah lebih dulu naik. Ini menjadi tantangan kita bersama sebagai Aparatur Sipil Negara untuk melakukan antisipasi sebaik-baiknya,” tegas Tomsi Tohir.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan pada minggu kedua Februari 2026, komoditas utama penyumbang kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di sejumlah provinsi adalah cabai rawit dan daging ayam ras. Secara nasional, harga cabai rawit naik 16,60 persen dibandingkan Januari 2026 dan berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).


Sementara itu, sejumlah komoditas lain menunjukkan tren penurunan, antara lain bawang merah turun 5,86 persen, bawang putih turun 0,05 persen, telur ayam ras turun 1,62 persen, minyak goreng turun 0,77 persen, serta Minyakita turun 2,87 persen meskipun masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Data tersebut menjadi rujukan bagi Pemkot Samarinda dalam mengambil langkah cepat dan terukur, khususnya pada komoditas cabai dan ayam yang menjadi perhatian nasional.

Selain pangan, pengawasan distribusi LPG juga diperketat. Pemkot bersama pihak metrologi wilayah Banjarmasin telah melakukan pengecekan terhadap tabung LPG 3 kg dan 5 kg. Hasil sidak minggu lalu menunjukkan isi dan takaran telah sesuai ketentuan.

Pemerintah juga mengimbau agar tidak terjadi praktik penimbunan LPG menjelang Ramadan dan Idulfitri. Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk mencegah kelangkaan dan menjaga stabilitas distribusi energi rumah tangga.

Dari sisi pasokan, Perumda Varia Niaga melaporkan stok ayam beku di cold storage mencapai sekitar 35 ton, dengan tambahan pasokan rutin 15 ton per minggu. Stok telur tersedia sekitar 21.400 butir. Meski terjadi kenaikan harga di tingkat produsen akibat siklus ayam hidup, kondisi di Samarinda masih relatif aman dan terkendali.

Dinas Perikanan Kota Samarinda mencatat stok ikan tangkap mencapai ±39.850 kg dan ikan budidaya ±23.630 kg per 18 Februari. Harga ikan layang yang sempat berada di kisaran Rp48.000–Rp50.000 per kg dipengaruhi faktor musim dan cuaca.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian melaporkan harga cabai di pasar berada pada kisaran Rp70.000–Rp75.000 per kg, sementara dalam Gerakan Pangan Murah dijual Rp60.000 per kg. Program Pangan Pekarangan Lestari (P2L) juga terus digalakkan guna mendorong kemandirian masyarakat dalam menanam cabai sebagai solusi jangka menengah. Distribusi beras SPHP melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) pada minggu lalu telah dilakukan di lima lokasi dengan total 20 ton.


Sementara itu, Bulog Samarinda memastikan stok aman untuk beberapa bulan ke depan, dengan ketersediaan beras medium 7.650 ton, beras premium 233 ton, gula sekitar 42 ton, serta minyak goreng 13.764 ton.

Sebagai daerah yang bukan sentra produksi utama, Pemkot Samarinda memperkuat sistem pasokan berlapis melalui 10 Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama dengan daerah penghasil komoditas strategis.

Kerja sama ini mencakup pasokan bawang merah, bawang putih, cabai, ayam, telur, hingga ikan sebagai langkah antisipatif apabila terjadi gangguan pasokan di salah satu wilayah.

Saefuddin Zuhri menegaskan bahwa pengendalian inflasi harus berbasis data, kolaboratif, dan dilakukan sebelum gejolak harga terjadi.

“Data SP2KP menjadi rujukan kita. Jika cabai dan ayam menjadi penyumbang kenaikan secara nasional, maka kita harus lebih cepat memastikan stok aman dan distribusi lancar di daerah. Pemerintah harus hadir sebelum harga melonjak,” tegasnya.

Momentum Ramadan menjadi penguat sinergi seluruh perangkat daerah untuk bekerja lebih cepat, lebih solid, dan lebih responsif terhadap dinamika harga. Dengan pengawasan ketat, intervensi pasar, penguatan stok, serta sinergi lintas perangkat daerah dan BUMD, Pemerintah Kota Samarinda optimistis stabilitas harga tetap terjaga. (AL/VE/ASYA/KMF-SMR/TOM-DOKPIM)


Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Pasar Ramadan “Legend” Resmi Dibuka, Andi Harun: Wadah Silaturahmi, Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Sosialisasi Transaksi Digital

i
Berita Sebelumnya

Hari Kedua Wali Kota Samarinda Golf Open 2026 Semarak, Silaturahmi Golfer Se-Kalimantan Kian Erat

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar