11 Kali

SAMARINDA, KOMINFONEWS – Mengolah sampah organik dari rumah menjadi pupuk merupakan salah satu alternatif untuk menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun, penerapannya tidak cukup hanya dengan menyediakan alat. Kapasitas, efektivitas penguraian, kebutuhan biaya operasional, hingga kesiapan masyarakat dalam menggunakannya perlu diperhitungkan agar solusi tersebut benar-benar berjalan.

Hal itu menjadi perhatian Wakil Wali Kota (Wawali) Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M., saat menerima audiensi perwakilan PT Hambalang Kertajaya di Ruang Rapat Wawali, lantai III Balai Kota Samarinda, Kamis (22/10/2026).

Saefuddin menilai, komposter yang praktis dan siap digunakan dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin mengolah sampah sendiri, terutama warga yang belum memiliki pengetahuan atau kemampuan untuk membuat alat pengomposan secara mandiri.

Meski demikian, ia menekankan perlunya kajian lebih rinci mengenai penggunaan komposter dalam jangka panjang. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah penggunaan aktivator mikroba yang tercantum dalam penawaran produk. 

Menurutnya, perlu dipastikan apakah bahan tersebut wajib digunakan secara rutin, seberapa efektif dosis yang digunakan, serta berapa biaya tambahan yang harus disiapkan setelah pembelian alat.


Pertimbangan itu penting karena pengadaan komposter tidak hanya menyangkut investasi awal. Masyarakat juga perlu mengetahui kebutuhan perawatan, tata cara pengisian sampah secara berlapis, serta cara menjaga agar alat tetap berfungsi dengan baik.

Saefuddin turut menyoroti kapasitas komposter 140 liter apabila diterapkan pada rumah tangga dengan jumlah penghuni yang berbeda-beda, terlebih jika penggunaannya diperluas hingga tingkat rukun tetangga (RT). Volume sampah yang dihasilkan setiap rumah tidak sama sehingga kapasitas alat dan waktu penguraian perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Ia meminta agar efektivitas pengolahan, termasuk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan pupuk padat dan cair, dapat dijelaskan secara terukur. Dengan begitu, masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai manfaat, cara penggunaan, dan biaya operasional sebelum memutuskan untuk mengadopsi teknologi tersebut.

Sebelumnya, perwakilan PT Hambalang Kertajaya menyampaikan paparan mengenai komposter berkapasitas 140 liter berbahan fiberglass yang dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Alat ini dilengkapi sistem aerasi dan pemisah untuk menghasilkan kompos padat serta pupuk organik cair melalui proses penguraian sampah.

Perwakilan perusahaan menjelaskan, komposter tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat memilah dan mengolah sampah organik sejak dari rumah. Bahan yang dapat diolah antara lain sisa sayuran, buah-buahan, sisa nasi, cangkang telur, dan dedaunan. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik tidak dapat dimasukkan ke dalam komposter.


Dalam presentasi tersebut juga dijelaskan bahwa komposter dirancang dengan sistem sirkulasi udara untuk membantu proses penguraian sekaligus mengurangi bau. Hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk padat dan cair, dengan waktu pematangan yang bergantung pada bahan serta metode yang digunakan.

Pembahasan itu sejalan dengan kebutuhan Pemerintah Kota Samarinda untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Pengurangan sampah organik sejak dari rumah tangga dinilai dapat membantu menekan jumlah sampah yang harus diangkut ke tempat penampungan sementara hingga TPA.

Dalam diskusi tersebut, pengomposan juga dipandang sebagai salah satu alternatif yang dapat melengkapi upaya pemilahan sampah lainnya. Apabila sampah organik dapat diolah di tingkat rumah tangga, sementara sampah yang masih bernilai dipilah dan dimanfaatkan kembali, beban pengangkutan dan penanganan sampah di hilir berpeluang berkurang.

Namun, penerapannya membutuhkan edukasi dan pendampingan secara berkelanjutan. Pengalaman pengomposan yang telah berjalan di lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa praktik langsung dapat membantu warga memahami prosesnya sekaligus meningkatkan minat untuk ikut mengolah sampah dari rumah.


Karena itu, penerapan komposter melalui Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) dapat dipertimbangkan secara bertahap dengan melihat kesiapan warga dan kebutuhan setiap lingkungan. Sosialisasi, pemantauan penggunaan, serta evaluasi hasil menjadi bagian penting agar alat yang disediakan tidak berhenti sebagai pengadaan barang, tetapi benar-benar digunakan untuk mengurangi sampah.

Selain proses pengolahan, diskusi juga menyinggung pentingnya memikirkan pemanfaatan hasil kompos setelah diproduksi. Kompos padat dan pupuk cair yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan rumah maupun ruang terbuka hijau. Ke depan, kebutuhan pupuk untuk pertamanan dan sektor lainnya juga dapat dikaji sebagai bagian dari upaya membangun rantai pemanfaatan hasil pengolahan sampah.

Dengan demikian, pengembangan komposter perlu ditempatkan dalam pendekatan pengelolaan sampah yang menyeluruh. Teknologi yang praktis, kapasitas yang sesuai, biaya penggunaan yang terukur, edukasi masyarakat, serta pemanfaatan hasilnya perlu berjalan beriringan agar pengurangan sampah dari hulu dapat memberikan dampak nyata bagi Kota Samarinda. (AR/MAF/DON/KMF-SMR | FOTO: ARY/DOKPIM)

Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Sambut Baik Reaktivasi IWAPI Samarinda, Wawali Saefuddin Zuhri Dorong Kolaborasi Pengembangan UMKM dan Lingkungan

i
Berita Sebelumnya

Hari Pangan Sedunia, Samarinda Hadirkan Pangan Murah untuk Warga Lewat GPM di Sindang Sari

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar