21 Kali

SAMARINDA.KOMINFONEWS-Tak banyak yang tahu siapa orang-orang di balik suara tenang yang menjawab setiap panggilan darurat warga Samarinda. Rabu (13/5/2026) siang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti akhirnya menyambangi langsung para operator dan relawan yang selama ini menjadi ujung tombak layanan darurat Samarinda Siaga 112.

Pertemuan berlangsung di ruang Command Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Samarinda, Kompleks Balai Kota. Hadir dalam kesempatan itu relawan Info Taruna Samarinda (ITS) yang dikomandani Joko Iswanto, serta perwakilan Dinas Kesehatan yang mengelola layanan panggilan 119 (Doctor On Call) untuk kegawatdaruratan medis.

Kepala Diskominfo Kota Samarinda, H Aji Syarif Hidayatullah, memaparkan perkembangan layanan 112 yang lahir sebagai bagian dari program Smart City Samarinda. 

Ia menjelaskan layanan ini resmi terbentuk pada Oktober 2019 dan dibangun dengan dana mandiri  tanpa bergantung pada kucuran langsung dari kementerian.

Yang menarik menurut dia, Diskominfo Samarinda tercatat sebagai satu-satunya Kominfo di Indonesia yang memiliki ambulans operasional sendiri. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi kondisi darurat ketika instansi terkait lambat merespons.

“Sekarang teman-teman relawan sudah punya ambulans juga, jadi respons bisa lebih cepat,” ujar Dayat sapaan akrab Aji Syarif Hidayatullah.


Ia menambahkan, saat ini ruang lingkup Diskominfo memang sangat luas mulai dari statistik, persandian, hingga e-government. Namun layanan 112 tetap dipertahankan karena tingginya kebutuhan masyarakat.

“Lucunya kami masih mengurusi ini. Karena warga sangat membutuhkan keberadaan 112 bahkan untuk isi token listrik pun mereka telepon ke sini,” selorohnya.

Kepala Bidang Aplikasi dan Layanan E-Government Diskominfo, Rahadi Rizal, menjelaskan bahwa panggilan 112 sebenarnya nomor panggilan darurat internasional. Nama layanan ini kian dikenal luas justru pada masa pandemi Covid-19, ketika volume panggilan melonjak drastis hingga ribuan aduan.

“Kami bisa membuka hingga 25 line. Disaat daerah lain mungkin hanya buka 1 line,” ungkapnya.

Layanan ini beroperasi 24 jam penuh dengan tiga shift, masing-masing terdiri dari supervisor, penerima panggilan, perawat dan pengemudi ambulans. 

Selain menangani kegawatdaruratan umum, 112 juga melayani pasien rujukan seperti warga yang rutin menjalani cuci darah kebanyakan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang tidak mampu menyewa transportasi online.

Kiprah Samarinda pun diakui secara nasional. Pada 2022, sambung Rizal Kementerian Kominfo mengundang tim 112 Samarinda sebagai pembicara dan percontohan bagi wilayah Sulawesi dan Kalimantan.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Diskominfo Samarinda, Suparmin, memperkenalkan dashboard pemantauan Command Center Samarinda Siaga 112 yang digunakan untuk memonitor aktivitas layanan secara real-time.

“Lewat dashboard ini kita bisa memantau persentase kecepatan respons layanan. Termasuk Saat ini capaian insiden yang selesai ditangani mencapai 78,67 persen,” paparnya.


Suparmin juga menegaskan perbedaan antara dua kanal darurat yang ada. Panggilan 119 (Doctor On Call) difokuskan untuk kegawatdaruratan medis, sementara 112 bersifat lintas sektoral termasuk penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan berbagai laporan warga lainnya.

Sementara, Sekda Neneng Chamelia Shanti siang itu mengaku sengaja datang untuk bertatap muka langsung dengan para operator sosok yang selama ini hanya dikenalnya lewat sambungan telepon ketika masih bertugas di Dinas PUPR.

“Bagi warga, 112 adalah tempat mengadu dan mengeluh. Ini menggambarkan kepercayaan masyarakat kepada kita,” ujarnya.

Ia berterima kasih kepada seluruh operator yang menjadi garda terdepan pelayanan publik, dan berjanji mengupayakan penghargaan dalam bentuk pelatihan jika kondisi keuangan daerah memungkinkan.

Terkait keluhan yang masuk mulai dari kebutuhan tambahan staf hingga keterbatasan peralatan medis, Sekda meminta Diskominfo agar segera dibuatkan advis dan telaah untuk dia bawa ke pembahasan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Yang tak kalah penting, Neneng secara khusus meminta data OPD yang cepat dan lambat merespons setiap aduan warga lewat 112, agar bisa divisualisasikan dalam bentuk grafik.

“Tuangkan dalam bentuk grafik kepedulian OPD, karena ini tugas lintas sektoral. Ini sangat penting bagi perwajahan Pemerintah Kota Samarinda,” tegasnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama relawan dan operator dilanjutkan visitasi ruang kerja 112. (FER/KMF.SMR/FOTO.TOM-DOKPIM)

Instagram Logo 

Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda

 

Facebook Logo Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda

Tiiktok Logo Ikuti Tiktok Pemerintah Kota Samarinda

Youtube Logo Ikuti Youtube Pemerintah Kota Samarinda

Wawali Samarinda Matangkan Gotong Royong Penanganan Banjir di Empat Titik Sukorejo–Lempake

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Informasi OPD

Tinggalkan Komentar