197 Kali

SAMARINDA. Walikota Samarinda, Syaharie Jaang  memimpin Rapat Koordinasi mengenai Kondisi Penyebaran Covid-19 di rumah jabatan Walikota dengan menerapkan Psychical Distancing, Senin (27/04).


Hadir dalam kesempatan ini Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chaeruddin, Asisten I Tejo Sutarnoto, Plt Kepala Dinas Kesehatan Ismed Kosasih, Kepala Dinas Kominfo Aji Syarif Hidayatullah, Kepala Dinas Sosial Ridwan Tassa, Plt Kepala BPBD Hendra AH, Kepala Dinas Perdagangan Marnabas, Kepala Disnaker Lujah Irang, serta Kabag Kesra Abdul Jami.

Walikota yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Samarinda mengatakan Pemerintah Daerah bersama Gugus Tugas terus melakukan berbagai upaya mulai penanganan terhadap penyakitnya, penyebarannya hingga dampaknya.


Seperti diketahui sebutnya, Pemkot melakukan pembagian paket sembako untuk warga Samarinda yang terdampak Covid-19 namun belum mendapat bantuan dari pemerintah pusat.


“Bantuan terus didistribusikan dengan memberdayakan ojol dan membeli sembakonya dengan memberdayakan pedagang. Tapi ramai di media sosial tentang penyaluran yang tidak tepat sasaran, ada yang belum kebagian sampai urusan ongkir ojol dan ojol di luar Gojek tidak kebagian pendistribusian,” ucap Jaang.


Oleh karena itu Jaang berpesan kepada jajarannya untuk benar-benar selektif dalam pendataan, sehingga warga yang benar-benar kesulitan ekonomi terbantukan.


“Tapi jangan sampai tumpang tindih. Kan ada bantuan dari pusat. Juga ada pula yang pra kerja. Saya juga sedih mendengar banyaknya PHK dan usaha yang macet,” tutur Jaang.


Terkait ongkir ojol dalam pendistribusian dalam rapat itu terungkap bahwa memang Rp 10.000 per paket dalam pengantaran sampai ke rumah warga. Pemkot Samarinda menyerahkannya melalui koordinator masing-masing ojol. 


Seperti diberitakan bahwa ojol menerima di bawah angka tersebut, namun Pemkot sendiri membayar melalui koordinator sebesar Rp 10.000. Persoalan ojek online di luar Gojek yang belum diberdayakan, Jaang menginstruksikan agar pendistribusian selanjutnya memberdayakan yang juga selain Gojek, seperti Grab, Maxim dan Ranjek (Palaran Ojek Online di wilayah Palaran).


Jaang menghimbau kepada masyarakat yang ingin berobat  ke rumah sakit  agar memberikan keterangan yang jujur kepada  para medis. 


“Jangan sampai terjadi seperti di daerah lain dan mengakibatkan rumah sakit tidak melayani atau tutup dikarenakan dokter dan perawatnya terpapar Covid-19 akibat  ketidakjujuran pasien dalam memberikan keterangan kepada paramedis yang melayani,” pesannya.


Dalam rakor itu Ismed menyampaikan sekarang ini Samarinda memasuki masa puncaknya wabah Covid-19. 


“Perhitungannya 2 hingga 4 minggu kedepan. Strategi mendeteksi secara dini dengan cara mengisolasi pasien-pasien. Alhamdulillah Pemkot Samarinda telah mempunyai rumah sakit karantina yang tujuannya untuk mengantisipasi masa-masa puncaknya, serta mengisolasi pasien-pasien PDP  lpositif yang ringan,” ucap Ismed.


Sementara Hendra menyampaikan selama 23 hari  melakukan penjagaan di 2 pos jalur masuk Kota Samarinda dari kota Balikpapan dan mendapatkan lebih kurang 7.800 orang yang telah di scanning suhu badan.  

Dia melaporkan juga pendistribusian bantuan sembako  kepada warga yang terdampak Covid-19 ke setiap kecamatan sudah mencapai lebih kurang 75 persen.


Kepala Dinas Tenaga Kerja Samarinda Lujah Irang menyampaikan yang terdampak besar di sektor pariwisata seperti perhotelan. 


“Mereka PHK sementara, kalau dirumahkan harus ada yang dibayar lagi. Namun ada juga yang tetap dikerjakan tapi dibayar 20 hari kerja. Pengaduan juga tidak ada karena memahami kondisi Covid-19,” terangnya seraya menambahkan ada salah satu perusahaan kayu yang karyawannya sekitar 2.000 sekarang tersisa 200 lebih. (KMF10/KMF2)


Penulis: Eko —Editor: Doni

Jaang Instruksikan Pejabat Tak Perlu Buat Kartu Lebaran, Dananya Bisa Untuk Sembako

Berita Sebelumnya

Distribusikan Sembako, Wawali Ajak Warga Selalu Bersyukur

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar