164 Kali

    SAMARINDA. Menjamin stok pangan dapat terus tersedia dan dengan harga yang stabil sehingga inflasi dapat ditekan, Pemerintah Kota Samarinda melakukan kerjasama lintas daerah dengan dua kabupaten dan satu kota di Propinsi Sulawesi Selatan.

    Daerah-daerah tersebut yaitu Kabupaten Enrekang, Kota Makassar dan Kabupaten Bantaeng. Langkah awal untuk mengawali kerjasama antar daerah ini adalah dengan melakukan penandatangan MoU antara Pemkot Samarinda dengan ketiga daerah di Sulawesi Selatan tersebut, pekan lalu.

    Saat mengunjungi Kabupaten Enrenkang untuk melakukan penandatanganan MoU, Walikota Samarinda Syaharie Jaang, Sekda Sugeng Chaeruddin dan jajaran disambut Bupati Enrekang Muslimin Bando di rumah pribadi Bupati, Selasa (11/12). Muslimin sangat menyambut bahagia niat baik Pemkot Samarinda.

    “Ini satu langkah paling maju kalau antara Pemda dengan Pemda itu saling sharing,” kata Muslimin saat menyampaikan sambutan selamat datang.

    Namun sebutnya ada kendala yang mungkin akan dihadapi nantinya yaitu barang-barang yang dibawa ke Samarinda barang yang tidak tahan lama. “Ada baiknya kalau kedua daerah ini (Samarinda dan Enrekang) memiliki cold storage sehingga daya tahan kita itu tidak dipermainkan oleh keadaan pasar pada sesaat, ada kemampuan menahan,” lanjut Muslimin.

    Sementara itu Walikota Samarinda menyampaikan kurang lebih 80 persen kebutuhan pangan Kota Samarinda berasal dari Enrekang.
“Kurang lebih 80 persen dari kebutuhan pangan yang ada di Kota Samarinda adalah dari luar Kalimantan dan sayur mayur banyak dari Enrekang,” kata Jaang.

    Kondisi ini jika mengalami gangguan baik itu distribusi dan harga akan berpengaruh pada inflasi makanya harus dikendalikan. “Salah satu yang mempengaruhi inflasi Kota Samarinda yaitu cabe dan sayur mayur. Salah satu yang bisa kita kendalikan yaitu bagaimana kelancaran distribusi daripada bahan pangan dan juga stabilitas harga,” lanjut Jaang.

    Dalam kesempatan itu juga Jaang menyampaikan bahwa Samarinda dua tahun bertuturut turut menjadi kota terbaik dalam hal pengendalian inflasi yaitu pada tahun 2016 dan 2017.

    Sementara itu saat mengunjungi Kota Makassar untuk melakukan penandatanganan MoU, Syaharie Jaang dan jajaran disambut langsung Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto dan jajarannya. Rombongan diterima di ruang Sipakalebbi Balaikota Makassar, Rabu (12/12).

    Dalam sambutannya Jaang menyampaikan tujuan rombongan ke Makassar yaitu untuk melakukan kerjasama dalam pengendalian inflasi khususnya perikanan.

    “Tujuan kunjungan adalah bagaimana penguatan kita dalam pengendalian inflasi khususnya dibidang perikanan,” kata Jaang.

    “Perlu ada kerjasama kedua daerah dan yang menarik disini cabe ditanam di lorong-lorong,” lanjut Jaang.
Mohammad Ramdhan yang akrab disapa Danny Pomanto menyambut baik kerjasama ini dan menyampaikan kunjungan Walikota Samarinda dan rombongan bukan untuk belajar tapi kunjungan ini dalam rangka  saling share antara kedua daerah.

    “Bukan Samarinda ingin belajar sama kita tapi kita share,” kata Danny Pomanto. “Samarinda juga memiliki program unggulan yang jadi contoh nasional,’ lanjutnya.

    Satu daerah lainnya yang akan diajak kerjasama oleh Kota Samarinda yaitu Kabupaten Bantaeng. Daerah ini juga salah satu penghasil komoditi pertanian khususnya beras. Dalam kunjungannya di daerah ini Jaang dan rombongan disambut Wakil Bupati Bantaeng Sahabuddin di ruang pola Kantor Bupati Kamis (13/12). Dalam pertemuan tersebut Jaang menyampaikan kunjungan ini upaya untuk menjaga stabilitas pangan karena hampir semua bahan pokok disuplai dari luar Samarinda.

    Misalnya saja beras hanya dapat dipenuhi sekitar 5-6 persen dan kurang lebih 61 persen kebutuhan beras berasal daari Kabupaten Bantaeng.

    “Kami datang ke Bantaeng guna melakukan kerjasama antar dua daerah agar dapat saling mengisi, berkontribusi terutama dalam hal menjaga inflasi di daerah masing-masing,” kata Jaang.

    Dengan terjalinnya kerjasama ini, sebutnya kebutuhan di Samarinda dapat terpenuhi dan petani Bantaeng bisa mendapat harga jual yang bagus.

    Dalam sambutan penerimaaannya, Sahabuddin menyampaikan terima kasih karena Kabupaten Bantaeng menjadi salah satu daerah kunjungan rombongan.

    Di kesempatan itu Sahabuddin menyampaikan gambaran umum dan program-program pembangunan Kabupaten Bantaeng. 

    “Bantaeng sudah menjadi sasaran kunjungan pembelajaran dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Sahabuddin.

    “Kunjungan Walikota Samarinda beserta jajarannya tentu menjadi suatu kehormatan bagi kami. Kerjasama ini memang sangat kami butuhkan karena Kota Samarinda membutuhkan pangan dan Bantaeng membutuhkan pasar, jadi mari kita saling berbagi informasi, sharing tentang keadaan dan kondisi di daerah masing-masing,” lanjut Wabup Sahabuddin.

    Penandatangan MoU antara Kota Samarinda dan tiga daerah di Sulawesi Selatan ini yaitu Kabupaten Enrekang, Kota Samarinda dan Kabupaten Bantaeng akan segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) agar kerjasama ini bisa segera berjalan.


BANTU PEDAGANG DAN PETANI

    Kerjasama dengan tiga daerah ini, bukan hanya menekan inflasi tetapi juga memberi multi plier effect membantu pedagang dan petani.

    Kabupaten Enrekang yang paling utama adalah untuk kerjasama penyediaan komoditas sayur mayur, Kota Makassar kerjasama untuk sektor perikanan khususnya ikan layang dan Kabupaten Bantaeng kerjasama untuk komoditas beras.

    “Kerjasama ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga ketahanan dan distribusi pangan, tapi juga untuk menekan dan menjaga tingkat inflasi di Kota Samarinda. Selain itu kerjasama ini juga untuk membantu para pedagang dan petani,” ucap Jaang yang juga membawa Perusahaan Daerah Pergudangan dan Aneka Usaha (PDPAU) Samarinda.   

    Setelah penandatanganan MoU ini Pemkot Samarinda segera menindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Untuk itu menurut Jaang harus segera dirumuskan dan ditindaklanjuti oleh Instansi teknis tidak hanya sebatas MoU.

    “Menjadi bahan bagi kita untuk merumuskan bagaimana kesiapan daripada komoditi yang memang dibutuhkan oleh warga Kota Samarinda yang memang berasal dari tiga daerah ini,” ujar Jaang.

    Menurutnya, apa yang dilakukan ini sebenarnya adalah memberikan suatu perlindungan dan mengayomi daripada pebisnis karena berada dalam pengawasan pemerintah sehingga ada yang terlindungi. “Jika terjadi wanprestasi (Inkar janji, red) yang paling rugi adalah petani,” jelas Jaang yang juga alumni Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda ini. Dalam kerjasama antar daerah ini Pemkot Samarinda akan melibatkan Perusda, khususnya PDPAU. (kmf)

Penulis: Masrullah

Mahasiswa Kepolisian Lakukan Penelitian di Pasar Segiri

Berita Sebelumnya

Bertabur Apresiasi di Peringatan Hari Ibu

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar