30 Kali

GUNUNG KIDUL. Komitmen Pemerintah Kota Samarinda terhadap pembangunan responsive gender di Kota Samarinda, seluruh Kepala Sub Bagian Program dari seluruh OPD dan 10 kecamatan melakukan studi tiru ke Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Studi tiru yang langsung di bawah komando Kepala Bappeda Samarinda selaku OPD Driver Pembangunan Pengarusutamaan Gender (PUG) Ananta Fathurrozi didampingi beberapa OPD Tim Driver PUG Samarinda, dilaksanakan Kamis (3/10).

Ananta mengatakan sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional, yang secara tegas menyatakan daerah yang di dalamnya Gubernur dan Walikota/Bupati berkomitmen dalam Pembangunan PUG harus mengintegrasikan isu-isu gender dalam pembangunan daerah.

Menurutnya, pembangunan PUG  juga merupakan komitmen dalam mewujudkan pencapaian SDGs, dengan memasukkan isu gender dalam dokumen RPJMD, Renstra dan Renja OPD, sehingga masyarakat baik laki-laki, perempuan, anak dan penyadang disabilitas memiliki hak yang sama dalam hal akses, partisipasi, kontrol dan manfaat.

"Pemerintah Kota Samarinda berkomitmen melaksanakan pembangunan yang responsive gender yang mengacu pada Permendagri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah melalui 7 indikator PUG," katanya.

Salah satunya sebut Ananta adalah indikator point 4, yaitu Sumber Daya, melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM seperti Pelatihan Perencanaan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) pada tahun 2018 dan 2019, juga Bimbingan Teknis bagi Tim Driver PUG dan Studi Pembelajaran yang sedang dilaksanakan saat ini.

"Studi Pembelajaran PUG dan PPRG saat ini dilaksanakan di Kabupaten Gunung Kidul. Kami atas nama Pemerintah Kota Samarinda mohon izin jika rekan-rekan yang hadir ini nanti bisa konsultasi/wawancara, mohon saran dan masukan, sharing pengalaman terutama inovasi-inovasi guna mempercepat pencapaian pembangunan responsive gender seperti di Kabupaten Sleman yang sudah mencapai Peringkat Utama Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari Kementerian Dalam Negeri," imbuhnya.

Oleh karena itu, sebutnya tujuan dari studi pembelajaran ini mempelajari kata kunci/alur proses yang merupakan sumbangsih keberhasilan PUG di Kabupaten Sleman

"Kita juga ingin melihat komitmen, kebijakan, kelembagaan dan lainnya yang merupakan 7 indikator pra syarat PUG di Kabupaten Gunung Kidul," katanya.

Selain itu, lanjutnya ingin melihat keunggulan sejumlah program/kegiatan sebagai daya ungkit keberhasilan pembangunan PUG dan PPRG di masing-masing OPD di Kabupaten Gunung Kidul.

"Termasuk juga melihat jejaring Pembangunan PUG di tingkat desa/kelurahan/kecamatan," katanya.

Tentunya sebut Ananta, dari kegiatan ini ada target yang dicanangkannya, yaitu untuk jangka pendek, Tim Driver PUG (DPRD, Itwil, Bappeda, BPKAD dan DP2PA) mengetahui tugas dan fungsi sebagai penggerak PUG dan PPRG di Kota Samarinda dalam hal ini fungsi Binwasdal pelaksanaan PUG dan PPRG, menyusun Tim Penyusun Rencana Aksi Daerah (RAD-PUG), menyusun Buku Petunjuk Teknis PPRG dan Menyusun Buku Petunjuk Evaluasi PUG.

"Bagi Petugas Pemegang Program OPD adalah bisa menyusun Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender melalui GBS (Gender Budgenting  Statement) dan GAP (Gender Analisys Patway) yang dilampirkan bersamaan usulan RKA ke Bappeda," katanya.

Di samping itu, tambahnya terbentuknya Tim Focal Point OPD (100%) dan tersedianya Data Pilah Gender di semua OPD.

Sedangkan Target Jangka Panjang kata Ananta yang hobby jogging ini adalah Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari Kementerian Dalam Negeri.

Adapun fokus studi tiru ini kosentrasi pembelajaran lebih pada bidang pendidikan, kesehatan, PUPR, DP2PA, Bappeda, Kecamatan dan lainnya.(kmf2)

Penulis/Editor: Doni

Tinjau Lokasi Kebakaran, Jaang Sebut Rumah Bersejarah Dalam Hidupnya

Berita Sebelumnya

Dapur E'Mek Ilas, Dalam Gang Rasa Restoran

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar