62 Kali

SAMARINDA. Walikota Samarinda Syaharie Jaang mendukung kerjasama antar daerah yang selama ini terus dilakukan, begitu pula perluasan Quick Response [QR] Code Indonesian Standard (QRIS) di Samarinda sangat disambut baik. Hal ini dikemukakan Syaharie Jaang dalam "Diskusi Kerjasama Antar Daerah dan Perluasan QRIS di Samarinda" oleh Bank Indonesia Perwakilan Kaltim diselenggarakan melalui Video Conference via Zoom di Rumah Jabatan Walikota Samarinda, Kamis (6/8/2020).

 

“Perlu diketahui perkembangan di Samarinda meski masih dalam situasi Pandemi Covid-19, namun pasokan distribusi bahan pokok masih lancar. BI melalui Pak Tutuk juga terus menginformasikan terhadap saya terutama bagaimana inflasi di Kota Samarinda. Alhamdulillah meski kebutuhan bahan pangan banyak dipasok dari luar seperti dari Sulsel, Jatim juga Sulteng masih dalam keadaan lancar,” tutur Jaang yang didampingi Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, Asisten II Nina Endang R, Kadis Perdagangan Marnabas, Plt Kadis Ketahanan Pangan M. Saleh dan Kabag Perekonomian Ibrohim. Sedangkan yang mengikuti dari aplikasi zoom Kepala BI Perwakilan Kaltim Tutuk Cahyono beserta jajarannya, Kadis Koperasi dan UKM Ibnu Araby, Kepala Bapenda Hermanus Barus, Kepala Bappeda Ananta Fathurazzi, Dirut PDPAU M Fadli, dan lainnya.

 

Ditambahkan Jaang memang di Samarinda ada PDPAU yang bisa menjaga kelancaran juga kelangkaan bahan pokok, sehingga inflasi Kota Samarinda bisa dijaga dengan baik.

 

“Selain transaksi secara langsung kita perlu juga mengingatkan supaya transaksi secara online begitupun dengan pembayaran yang disosialisasikan oleh BI dan Bankaltimtara bahwa beberapa pasar di Kota Samarinda sudah meluncurkan pembayaran melalui E-Payment yang sangat bagus sekali dan terus kita support,” tambahnya.   

 

Sekda juga menyambut baik dengan kehadiran QRIS ini dengan sosialisasi yang masif kedepannya akan menjadi salah satu solusi pertama bagi Pemkot Samarinda dalam hal pendapatannya.

 

“Saya yakin dengan adanya QRIS ini pendapatannya akan meningkat dan tingkat kebocoran itu akan semakin berkurang. Masalahnya sekarang bagaimana QRIS ini bisa familiar dengan masyarakat kita,” kata Sugeng.

 

Dalam waktu dekat ini sebutnya, mereka akan sosialisasi QRIS kepada Masjid juga rumah ibadah lainnya di Kota Samarinda berkenaan dengan adanya Pandemi Covid-19 ini dengan timbul masalah adalah operasional disana.

 

“Kita bisa membantu subsidi untuk menggratiskan air melalui PDAM melalui kebijakan Walikota Samarinda, tetapi PLN nya yang masih terus jalan. Dari QRIS ini bisa menjadi solusi karena orang melihat bisa berinfaq dari rumah. Diharapkan BI segera bisa mensimulasikan, sehingga bisa diterapkan di masyarakat khususnya Kota Samarinda,” papar Sugeng.

 

Sementara itu jelas Tutuk bahwa perkembangan QRIS di Kaltim ini sangat luar biasa saat ini Samarinda sudah di atas Balikpapan.

 

“Dengan adanya Pandemi Covid–19 tambah cepat lagi program ini, sedangkan tujuan akhir kita bagaimana untuk membantu UMKM, tempat ibadah dan sekolah bisa terus berjalan dengan baik. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Walikota Samarinda beserta jajarannya yang support dengan QRIS yang berpotensi kedepannya bersinergi dengan Pemerintah, perbaankan, OJK, Komunitas dan lainnya,” jelas Tutuk Cahyono.

 

Menurutnya visi mereka adalah BI Digital untuk mendukung Indonesia Maju yang bertransformasi melalui proses kebijakan maupun data-data.

 

“QRIS sangat bermanfaat bagi UMKM dan tempat ibadah, serta menjadi solusi di tengah pandemi Covid-19. Digitalisasi UMKM dan tempat ibadah melalui QRIS dapat membantu dari sisi ekonomi dan kesehatan melalui teknologi tanpa tatap muka atau contactless payment,” katanya.

 

Ia menyebutkan manfaat QRIS bagi UMKM bisa mengikuti trend, sehingga meningkatkan omset penjualan, menerima pembayaran secara higienis, teansaksi tercatat dan langsung masuk rekening.

 

“Tidak perlu uang kembalian dan bebas resiko pencurian, serta uang palsu. Membangun credit profile dengan mudah. Murah dan bebas biaya bagi usaha mikro,” katanya.

 

Selain itu lanjutnya, perluasan QRIS dapat mendorong terwujudnya UMKM sebagai kekuatan baru ekonomi, serta meningkatkan penerimaan, transparasi manajemen dan akuntabilitas pengelolaan penerimaan atau pengeluaran di tempat ibadah.

 

Sedangkan masalah kerjasama antar daerah menurut Tutuk adalah pentingnya peran lembaga penyangga atau stabilisator (buffer stock) pasokan dan harga pangan.

 

“Lembaga buffer stock idealnya tidak hanya berorientasi memaksimalkan keuntungan semata, namun lebih ke PSO (Public Service Obligator). Keuntungan memiliki lembaga penyangga yang kuat seperti Perusda, BUMD, BUMN adalah bisa memotong rantai distribusi, menjadi kekuatan penyeimbang untuk menghindari kontrol harga oleh sebagian pedagang besar di pasar,” jelasnya.

 

Selain itu sambungnya, memiliki comparative advantage di sisi jaringan, serta akses informasi dan kebijakan terkini dari Pemerintah.

 

“Dapat menjadi supplier bagi daerah lain yang membutuhkan, sehingga dapat meningkatkan keuntungan,” katanya. (bay/don/kmf-smd)






Kajagung Ground Breaking Gedung Kejaksaan di Kaltim, Jaang Ungkap Gedung Lama Banyak Bocor

Berita Sebelumnya

Barkati Salurkan Paket Sembako di Kelurahan Handil Bakti

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar