47 Kali

SAMARINDA. Masih rangkaian peringatan Hari Jadi Kota ke 351 dan HUT Pemerintah Kota Samarinda ke 59, Jumat (18/1) pagi kembali dilaksanakan Ziarah Makam Pendiri Kota Samarinda Lamohang Daeng Mangkonang di Samarinda Seberang.

Ziarah ini menjadi agenda inti yang terus dilaksanakan tiap Hari Jadi Kota setiap tahunnya.

Kali ini jajaran Forkompinda dan Jajaran OPD untuk menuju ke tempat  menggunakan Kapal Wisata mengarungi Sungai Mahakam, barulah berlabuh dan meresmikan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kampung Ketupat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Makam.

Di Kampung Ketupat Jaang memerintahkan Sekda Sugeng Chairuddin untuk berkoordinasi dengan Camat Lurah agar dapat segera menunjuk penanggung jawab yang memiliki pengaruh besar dapat menyatukan antara pemuda dan masyarakat kampung tersebut. 

Jaang berharap kepada seluruh masyarakat agar menjaga dan merawatnya bersama.

“Jangan seperti Rumah Tua, itu kebanggaan kita, menjadi cagar budaya, dibangun di periode pertama saya, disiapkan semua fasilitasnya, Eh Hilang. Ini harus kita jaga dan kita rawat bersama, jangan sampai daerah ini kembali menjadi kumuh, jadi kotor”, kata Jaang.

“Disini klo bisa juga adakan tempat untuk belajar membuat ketupat, karena ini nantinya akan menjadi destinasi wisata, semua disini berpotensi menjadi kegiatan ekonomi, bisa berupa kayu pahat yang dijadikan miniatur gantungan kunci berbentuk ketupat,” harap Jaang.

Usai meresmikan Kampung Ketupat Jaang kemudian menuju lokasi Makam Lamohang Daeng Mangkona dengan berjalan kaki diiringi pasukan Jokaje dan disambut dengan tarian selamat datang di pintu masuk makam.

“Pendahulu kita Almarhum Lamohang Daeng Mangkona ini merupakan sesepuh yang menjadi peletak dasar titik emas berdirinya Kota Samarinda pada 351 tahun yang lalu. Artinya sudah cukup panjang perjalanan kota kita,” ujar Walikota dalam sambutannya.

Kata dia, para generasi penerus bangsa di kota ini juga wajib tahu soal sejarah berdirinya Samarinda beserta para tokoh pendirinya. 

Bahkan nama Samarinda juga menurutnya, tidak terlepas dari sejarah Lamohang Daeng Mangkona yang pertama kali masuk ke Samarinda dan bertemu dengan Sultan Kutai.

“Saat itu disambut baik oleh Sultan Kutai dan merasa sebagai sesama saudara, sehingga muncul nama Samarendah yang artinya sama-sama rendah, dan tidak ada yang lebih tinggi. Belakangan baru berubah pelafalannya menjadi Samarinda. Nah, anak-anak kita harus tahu semua soal sejarah ini,” tutur Walikota.

Bahkan untuk terus mengingatkan generasi penerus, Walikota sengaja mendirikan Taman Samarendah di Jalan Bhayangkara, Samarinda Kota. Di bagian tengahnya juga dibangun museum serta pusat informasi pariwisata.  

Usai ziarah, kemudian jajaran Pemkot Samarinda seperti tradisi tiap tahun, melaksanakan shalat Jumat berjamaah di masjid tua Shiratal Mustaqim.(KMF13)

Penulis: Ferdi

Dua Raperda Resmi Disahkan DPRD

Berita Sebelumnya

Munculkan Ide Kreatif di Masjid Sekolah

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar