101 Kali

SAMARINDA. Akhirnya sudah sebanyak 45 ton dari 58,176 ton bawang putih yang penjualannya langsung diambil alih Pemerintah Kota Samarinda dipesan oleh warga Samarinda dengan harga Rp 40.000/Kg. Ini berdasarkan data hingga pukul 15.00 WITA yang masuk di PDPAU Kota Samarinda selaku pelaksana penjualan yang pendistribusiannya didukung kecamatan dan kelurahan, dengan ujung tombaknya ketua RT setempat.

Sejak Kamis (9/5) pagi pendistribusian bawang putih ke kantor-kantor kelurahan dari pergudangan terus bergulir, untuk selanjutnya dari kelurahan didistribusikan ke RT-RT dan kemudian dibagikan kepada warga yang sudah terdata dan membayar Rp 40.000 tiap 1 kilogramnya kepada RT.

Secara simbolis di pergudangan, 58,176 ton yang dibeli Pemkot Samarinda dari distributor UD Surya Alam diserahkan langsung oleh Direktur UD Surya Alam, Bakrie kepada Walikota Samarinda yang diwakilkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, selanjutnya dari Sugeng ke Dirut PDPAU Fadly.

“Menyampaikan amanah Pak wali, beliau sangat mengapresiasi dan akan memberikan penghargaan kepada UD Surya Alam sebagai satu-satunya distributor yang mau menjual murah, dibanding distributor lainnya yang menawarkan harga Rp 42.500 per kilonya. Dengan menjual murah kepada Pemkot, UD Surya Alam jika diestimasikan dengan harga Rp 42.500 dia sama saja melepas keuntungan Rp 1 miliar. Bukan dia menjual rugi kepada Pemkot, tapi masih ada untungnya, tapi sebanyak ketika dia menjual Rp 42.500,” ucap Sugeng dalam sambutannya pada acara pendistribusian didampingi Asisten I Tejo Sutarnoto, Asisten II Endang Liansyah, kepala Dinas Perdagangan Marnabas Patiroy, kepala Satpol PP M Darham, Sekretaris Diskominfo Masrullah, Sekretaris Dishub Herwan, Forkompinda dan TPID Samarinda.

Dikatakan Sugeng UD Surya Alam merupakan distributor yang mau bekerjasama dengan pemerintah, yang pertama dan satu-satunya distributor yang mau membantu pemerintah dalam menyeimbangkan harga di pasaran. “Distributor yang tidak mau membantu, itu perizinannya perlu dipertanyakan,” tegas Sugeng.

Menurut Sugeng, inovasi diskresi dengan melakukan pembelian ke distributor dan menyalurkan lewat RTmerupakan inovasi baru yang terbukti bisa mengendalikan harga di pasaran yang sempat meroket hingga Rp 140 ribu.

Sugeng menjelaskan pola yang dilakukan ini bukan untuk mematikan pedagang, tapi dilakukan untuk mengendalikan harga akibat ulah dari oknum spekulan. Bahkan juga bukan sebatas komoditi bawang putih saja, jika terjadi dilain, kembali dilakukan ini.

“Bukan serta merta langsung melakukan ini. Menurut kami dari TPID ini sangat keterlaluan. Padahal sehari sebelumnya dilakukan Operasi Pasar dengan harga Rp 20 ribu yang pembelinya khusus pengecer. Tapi dua hari kemudian bawang putih menghilang, hingga akhirnya meroket Rp 140 ribu. Kemana 16 ton yang digelontorkan kepada pengecer dengan harga Rp 20 ribu disubsidi pemerintah pusat. Logikanya dimana. Padahal kebutuhan kita cuma 1,3 ton per hari. Berarti ada permainan, makanya kita melakukan diskresi ini atas instruksi Pak wali,” terang Sugeng.

Ditegaskan pula, yang dilakukan ini bukan pemerintah mau berdagang melalui PDPAU. “Dari harga jual Rp 40 ribu ini, harga distributor Rp 31 ribu, selebihnya untuk biaya operasional, transportasi, kesusutan dan lainnya, yang diperoleh pihak PDPAU dan RT. Khusus PDPAU dan RT saja, Camat dan Lurah tidak boleh. “Yang jelas transportasi dan buruh bongkar muat ke kelurahan ditambah sewa gudang. Begitu juga RT pun mengeluarkan biaya operasional untuk transportasi, timbangan dan susut. Jika tidak cukup, anggap saja RT bersedekah di bulan Ramadhan dengan membantu menjualkan bawang putih kepada warga,” jelas Sugeng lagi.

Sugeng menjelaskan pula kenapa warga yang membeli harus membawai KK dan KTP. Menurut Sugeng ini untuk antisipasi ada oknum yang memanfaatkan ini. “Tanpa identitas, kita tidak tahu siapa tahu ada spekulan yang membeli. Sama saja kita kebobolan lagi, dan bawang putih menghilang lagi seperti yang 16 ton operasi pasar itu,” tandasnya.

Untuk menekan harga kuliner naik, Sugeng menyebutkan mereka juga akan kebagian pola ini. Seperti di pasar Ramadhan GOR Segiri, bisa nanti lewat pengelola dijual ke pedagang. Sehingga tidak ada alasan menaikkan harga jualannya.

“Bukan di pasar Ramadhan ini aja, tergantung kreasi dr PDPAU memasarkannya. Yang penting tepat sasaran dan tidak dipermainkan. Apalagi satgas pangan selalu mengawasi,” tegasnya.

Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan Kaltim Prabu Dewanto sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan Pemkot Samarinda dalam mengendalikan harga komoditi, sehingga inflasi bisa terjaga.

“Harapan kita, apa yang dilakukan Pemkot Samarinda ini bisa ditiru daerah lainnya,” ucap Prabu.

Begitu pula warga RT 31 kelurahan Air Putih dengan kompak mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota sehingga mereka bisa membeli dengan harga yang jauh lebih murah di pasaran sekarang.

Seusai simbolis di pergudangan, Sekda bersama tim melakukan pemantauan di kantor kelurahan Karang Asam Ulu, kantor kelurahan Air Putih dan melihat langsung pendistribusian dari RT ke masyarakat di RT 41 kelurahan Air Putih didampingi Camat Samarinda Ulu M Fahmi.(km2)

Penulis: Doni/Hendri

Safari Ramadhan Perdana Di At-Taufiq Bukit Pinang

Berita Sebelumnya

Pemkot Susun Opsi Dana Emergency Untuk Orang Terlantar

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar