32 Kali

SAMARINDA. Seminar Nasional dengan tema "Penguatan Regulasi Ketahanan Pangan Satu Upaya Pendukung Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN)", Rabu (11/03) di Swiss BellHotel Borneo Samarinda dibuka Walikota Samarinda Syaharie Jaang.

 

Dalam sambutannya Jaang membeberkan masalah pangan terutama bahan pokok di Kota Samarinda ini 70-80 persen mendapat kiriman dari luar daerah.

 

“Kalau bicara masalah pangan khususnya di Kota Samarinda, kita semua mengetahui bahwa banyak bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah. Terlebih lagi Kota Samarinda mulai 70 s/d 80 persen bahan pokonya dipasok dari luar daerah, seperti Jawa dan Sulawesi. Ini belum bicara Kota Samarinda sebagai Kota Penyangga IKN. Karena nanti tahun 2024 tidak menutup kemungkinan penduduk Kota Tepian akan meningkat sangat drastis karena migrasi perpindahan IKN. Oleh sebab itu, tahun lalu kami sempat meninjau beberapa tempat sembari bersilaturahmi bersama rombongan besar seperti di Enrekang, Makassar, Bantaeng dengan tujuan untuk bisa menjaga inflasi di Kota Samarinda dan memberikan jaminan terhadap pangan yang masuk harus stabil,” terang Jaang.

 

Ditambahkan pula untuk tomat pun Kota Samarinda tidak bisa menyiapkan sendiri dan 90 persen didatangkan dari Enrekang.

 

“Sedangkan untuk ke Bantaeng kita melihat disana bagaimana sentra beras-beras yang banyak diproduksi disana. Saya baru tahu bahwa beras itu jangan dilihat dari tampilannya seperti warnanya. Ternyata malah yang agak merah atau kecoklatan itu yang sehat. Karena yang putih bening itu bisa sampai berapa kali poles,” tambahnya.

 

Ditegaskannya seminar tersebut sangat penting bagi semua.

 

“Seluruh pejabat tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum saya meninggalkan tempat karena begitu pentingnya untuk kebaikan Kota Samarinda. Seminar Ini apa hubungannya dengan Pemerintah Daerah karena bertanggung jawab dengan ketahanan pangan yang ada di daerah,” tegasnya.

 

Bahkan sebutnya Pemerintah sudah membuat Undang Undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan di pasal 12 itu sudah menjelaskan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas ketahanan pangan.

 

“Ayat duanya berbicara Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas kesediaan pangan di daerah dan produksi pangan lokal. Pada ayat ketiga mewujudkan kesedian pangan, Pemerintah Daerah menentukan jenis pangan lokal,” beber Walikota Samarinda dua periode tersebut bersemangat.

 

Sementara itu Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Mulyanto Nugroho menyampaikan mereka dari akademi mengemban Tri Dharma yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.

 

“Kami mendapat amanah dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dengan adanya Kampus Merdeka yang sudah kita buat, mendapat tugas akan melakukan pendampingan dana desa di seluruh Jatim. Tugas lainnya adalah bagaimana membuat perencanaan UKM, sehingga Jatim semakin bangkit. Itulah bentuk pengabdian di masyarakat, kebetulan ranking kami 57 di nasional dari seluruh kampus di Indonesia dan rangking 5 di Jatim, sehingga sudah semestinya kita melakukan pengabdian seperti hari ini menjadi narasumber tentang Penguatan Regulasi Ketahanan Pangan Satu Upaya Pendukung Pemindahan Ibu Kota Negara supaya bisa mempersiapkan diri dengan baik,” pungkasnya.

 

Mengikuti seminar Nasional tersebut Sekda Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, Asisten Sekkot Samarinda, Staf Ahli, Kepala OPD, Camat, mewakili DPRD, Perusda Kota Samarinda, Forum Muspida Kota Samarinda, Kadis Ketahanan Pangan dan holtikultura Provinsi Kaltim, Lembaga Swasta, Asosiasi Pangan se-Kota Samarinda, Lembaga Perlindungan Konsumen, Pengawas Persaingan Usaha, Rektor Untag 17 Agustus 1945 Surabaya beserta rombongan, Rektor, Dekan Universitas Widya Gama Samarinda dan seluruh undangan terkait lainnya. (KMF5)

 

Penulis: Afdani —Editor: Doni

Wawali Pesan Tidak Boleh Ada Ikut Campur Tangan Dalam Seleksi Paskibraka

Berita Sebelumnya

Warna Baru, Puncak HKG PKK Digelar di Mal

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar