89 Kali

SAMARINDA. Tidak hanya gembira, Walikota Samarinda Syaharie Jaang juga berbagi motivasi ketika membuka Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca tahun 2019 garapan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di aula rumah jabatan walikota, Selasa (19/3).

“Kita tahu sekarang ini minat baca kita tinggi. Tapi baca WA (WhatsApp, red),” ucap Jaang seraya bercanda namun fakta di lapangan. 

Jaang mencontohkan di Airport, suami istri anak masing-masing pegang HP membaca WA terlebih lagi memainkan games di gadgetnya. 

“Menurut saya membaca itu menata hati kita dari kekosongan, daripada pikiran kita kemana-mana tidak berarti, membaca lebih baik, menambah ilmu. Saya aja sebelum membacakan sambutan pada  agenda resmi, 3 hari sebelumnya sudah minta sambutan dari Protokol. Saya baca dan saya pelajari betul-betul,” ucap Jaang dalam sambutannya berbagi motivasi.

Jaang juga menceritakan kisah di zaman kuliahnya. “Saya kuliah tidak membeli buku, tapi mencatat judul buku kemudian membacanya di toko buku milik dosen kami. Saya waktu itu tidak sanggup beli buku. Tapi setelah bekerja, tiap keluar kota selalu membeli buku. Saya balas dendam dalam kebaikan. Sangking banyaknya buku, lemari rebah dan masih banyak juga buku masih dibungkus plastik,” beber Jaang dalam Talkshow bertema Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

Kemudian Jaang membuat perpustakaan di rumah pribadinya. “Saya umumkan ke warga, panggil Pak RT, majelis  taklim, ternyata sama tidak banyak yang membaca. Saya buka posyandu di Perpustakaan pribadi ini, sambil nunggu anaknya, ibu bisa membaca. Ternyata juga tidak banyak yang membaca,” kisah Jaang.

Jaang mengutarakan suka membaca buku motivasi dan psikologis. “Saya dulu baca buku, kalau ada hal penting saya kasih stabilo,” bebernya.

Menurut Jaang, membaca ini memberi penghargaan kepada penulis dan bisa membaca karakter penulis. “Perpustakaan ini bukan gudang buku, tapi koleksi buku yang dibaca. Jangan seperti perpustakaan saya. Untuk itu mari kita viralkan gerakan gemar membaca,” imbuhnya.

Sekretaris Utama Perpusnas RI Sri Sumekar mengatakan berdasarkan survei, antusiasme masyarakat Indonesia dalam membaca dan literasi masih cukup tinggi, tapi kenyataan di lapangan justru rendah.

“Ini karena budaya masyarakat Indonesia masih suka ngobrol dan bermain gadget daripada membaca. Itu yang membuat fakta minat baca rendah,” bebernya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, perpusnas RI memiliki berbagai macam program untuk mendorong minat baca masyarakat.

Diantaranya Gerakan Nasional Gemar membaca yang digalakkan di 100 daerah di Indonesia. “Samarinda adalah kota ke 10 untuk tahun ini. Atas dukungan DPR RI, kegiatan ini sudah berlangsung 5 tahun,” bebernya.

Kepala Dinas Perpustakaan Samarinda Ananta Fathurrazi menyampaikan terima kasih telah mendapat penghargaan ditunjuk menjadi tempat pelaksana Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca ini.

Sementara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian tampil sebagai narasumber menyampaikan bahwa minat baca dan budaya literasi perlu ditingkatkan.

Menurutnya kedua ini merupakan faktor penting untuk mengetahui, menguasai, mentransfer dan menerapkan IPTEK. “Budaya baca dan literasi juga penangkal hoaks,” tegasnya.

Begitu pula dengan Penggiat Literasi Syafruddin Pernyata yang juga mantan kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim, dalam kisah inspiratifnya mengutarakan buku itu mengalahkan dokter. Dimana anak korban narkoba bertobat setelah membaca buku novel laskar pelangi.(kmf2)

Perangi Ancaman Stunting, Puskesmas Bukuan Dijadikan Role Model

Berita Sebelumnya

Musrenbang Tahun Ini Harus Lebih Berkualitas

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar