90 Kali

SAMARINDA. Setelah berhasil ‘memukul’ para spekulan bawang putih dari harga Rp 140 ribu, kini  di pasaran sudah turun hingga Rp 45 ribu bahkan ada yang menjual Rp 35 ribu per kilogram di salah satu swalayan, Pemkot Samarinda kembali akan menerapkan strategi yang sama untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya tabung gas LPG melon alias 3 Kg bersubsidi.

“Apa yang kita lakukan dengan memotong jalur distribusi bawang putih di pasaran pekan lalu, ternyata ampuh menyeimbangkan harga. Ini suatu kegiatan yang positif, di mana di daerah lain bawang putih masih bergejolak, tapi pola kita sukses. Hal yang sama juga akan kita lakukan dengan gal LPG yang juga bermasalah,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Sugeng Chairuddin ketika mengawali Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) triwulan I tahun 2019 di aula rumah jabatan walikota, Senin (13/5).

Kilas balik kasus bawang putih, lanjut Sugeng, dimana sebelum terjadi kelangkaan dan lonjakan harga, awalnya pemerintah melakukan operasi pasar di beberapa pasar dengan melempar 16 ton bawang putih, tapi setelah dua hari malah menghilang. “Ini jelas spekulan,” tegas Sugeng.

Begitu pula dengan LPG, Sugeng menduga ada permainan. Apalagi sebutnya kelangkaan LPG tidak merata, hari ini di Palaran kemudian bergeser ke wilayah lain. “Ini artinya ada yang main-main,” keluh Sekda.

Apalagi sebut Sugeng tabung LPG selama lebaran alokasinya ditambah 7 persen, tapi nyatanya di tingkat pengecer sering langka. “Kita akan dalami ini lagi dan meminta data di pangkalan, dan kemana saja larinya LPG dari pangkalan. Kalau perlu kita akan menurunkan kembali Camat dan Lurah untuk melakukan pendataan, kemudian jika tidak berbenturan dengan regulasi, segera kita lakukan seperti pola bawang putih kemarin,” kata Sugeng.

Sugeng juga menegaskan tidak akan membiarkan lebaran tahun ini harga-harga bergejolak seperti tahun sebelumnya. “Kita akan jaga jangan sampai terjadi dan akan menerapkan pola ini untuk menyeimbangkan harga di pasaran jelang lebaran,” katanya.

Walikota Samarinda Syaharie Jaang mengapresiasi yang telah dilakukan jajaran Pemkot yang tergabung dalam TPID dan dukungan Forkompinda sehingga mampu menyeimbangkan harga bawang putih.

“Terima kasih ini kerja kita bersama. Biar bagaimanapun TPID Samarinda menjadi percontohan nasional, dimana dua kali meraih TPID Award dari Presiden. Bukan kita mau mengejar penghargaan, tapi bagaimana harga tidak menyusahkan warga,” katanya.

Jaang juga mendukung upaya untuk melakukan intervensi terhadap kelangkaan dan mahalnya harga LPG di kota Samarinda. “Ini seolah-olah ada aturan sendiri boleh menaikkan harga semaunya. Apalagi di bulan Ramadhan hingga menjelang lebaran, semuanya pada naik. Jadi kita harus melakukan intervensi supaya lebaran tahun ini tidak terjadi lagi. Kita ada di BPR Pemkot, kemudian ada PDPAU sebagai pelaksananya didukung camat dan lurah hingga RT termasuk dukungan dari BI dan Forkompinda,” tegas Jaang.

Rakor ini sendiri dihadiri Kantor Perwakilan BI Kaltim, Badan Pusat Statistik (BPS) Samarinda, Perum Bulog, PDAM, BPR, PDPAU dan OPD terkait.(kmf2)

Penulis: Doni

Tak Perlu Lagi Akte Berlegalisir

Berita Sebelumnya

Terus Tradisikan Bukber, Jaang Berbuka Dengan Alumni SMP Negeri Melak

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar