94 Kali

SAMARINDA. Walikota Samarinda Syaharie Jaang mengaku salah satu yang memperhatikan gaya kepemimpinan dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok.

Tak heran, ketika dalam kegiatan Dialog Warga Dayak Kalimantan Timur bersama Ahok di Ballroom Hotel Mesra Internasional, Sabtu (13/7), Syaharie Jaang yang juga ketua umum Persatuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) menyimak serius bahkan mencatatnya ketika Ahok berbagi motivasi dan trik seorang pemimpin.

"Menjadi pemimpin itu adalah pelayan masyarakat. Saya setiap hari bangun jam 4 subuh, kemudian pagi-pagi sudah menyiapkan waktu untuk menerima warga. Saya juga pergi undangan resepsi pernikahan, melayat warga dan lainnya. Saya kasih uang, itu uang dari pribadi," ucap Ahok yang datang ke Samarinda bersama isterinya Puput Nastiti Devi.

Jadi pemimpin lanjut Ahok bekerja dengan hati, tegas, rendah hati dan jujur.

"Saya akui, sulit menjadi rendah hati. Saya kalau dengan staf kalau dia salah, makin ngeyel saya tidak bisa diam. Saya kejar terus. Rendah hati ini yang susah," kata Ahok.

Yang penting lagi, sebutnya memiliki sifat yang jujur, berani melawan pihak yang korupsi, transparan atau auditable. Salah satu contoh sikap transparan yang ditunjukkan adalah semua yang menyangkut uang rakyat informasinya selalu disampaikan ke masyarakat secara terbuka dan bisa dipertanggung jawabkan, sehingga rakyat dapat mengetahui jika Ahok memimpin DKI Jakarta untuk kepentingan rakyat.

Ahok juga menyampaikan informasi ke masyarakat dengan cara saat  mengadakan rapat disiarkan di youtube, sehingga masyarakat dapat mengetahui jalannya rapat dan hasil keputusan rapat. 

"Seorang pemimpin harus bisa menjadi sosok yang baik dan bijak, baik kepada rakyat kecil maupun rakyat besar. Jadilah seorang pemimpin untuk diri Anda sendiri sebelum terjun menjadi pemimpin untuk orang lain. Menjadi pemimpin untuk orang lain adalah tanggung jawab besar yang harus dipikul. Kepemimpinan Anda dapat memberikan kebaikan maupun kesulitan bagi bawahan, serta bagi rakyat. Jadilah pemimpin yang ideal," tandasnya.

Sementara dari kacamatanya, Ahok menilai Samarinda memiliki masalah mirip dengan Jakarta. Salah satunya permukiman dekat kawasan sungai.

"Bila di Jakarta ada Waduk Pluit, di sini ada bantaran Sungai Karang Mumus yang relatif sulit digusur," katanya.

Terkait para penghuni sungai bantaran  berstatus penyewa. "Penyewa itu statusnya warga miskin yang dimanfaatkan pemilik rumah yang bisa saja tokoh masyarakat. Kondisi inilah yang kerap mempersulit relokasi. Kalau saya di Jakarta menyiapkan apartemen dan isi-isinya," ucap Ahok.

Sebelumnya Jaang dalam sambutannya sebagai walikota menyambut baik dialog kemarin dalam memberikan motivasi dan semangat membangun NKRI.

Jaang juga mengemukakan persoalan infrastruktur Kaltim. "Saya ini kelahiran Long Pahangai Mahakam Hulu yang lebih dekat ke Malaysia. Tidak mudah untuk datang ke sana. Ke Kubar saja kita sering menjumpai jalan trans yang rusak. Belum kalau kita mau ke Kutim, Berau," ucap Jaang sambil melihatkan tanyangan video jalan rusak.

Tak hanya itu, Jaang juga menyampaikan persoalan lampu bandara APT Pranoto yang belum ada, sehingga tak jarang terjadi delay karena ada kabut, dan juga belum adanya penerbangan malam.

Jaang berharap Ahok sebagai jembatan yang bisa menyampaikan persoalan ini langsung ke Jokowi karena sebagai sosok yang dekat dengan Presiden RI terpilih.

Menurut Jaang, lobi informal melalui diskusi, biasanya lebih cepat didengar pemerintah pusat. Dibanding mesti lewat lobi formal yang banyak prosedurnya.

"Kalau nanti ketemu Pak Jokowi, pasti beliau bertanya tentang kunjungan Pak Basuki ke Kaltim. Sampaikan persoalan yang dihadapi warga Kaltim dan juga masalah pemindahan Ibukota negara," ucap Jaang.

Terkait ibukota negara Ahok mengatakan jika harus memilih provinsi mana yang cocok untuk menjadi ibu negara, ia lebih memilih Kaltim.

Pemilihan tersebut bukan karena alasan kedekatannya dengan masyarakat dayak saja. Akan tetapi, lebih condong pada infrastruktur yang ada di Kaltim seperti pelabuhan kapal laut, bandara internasional, serta wisata yang ada.

"Tidak mungkin pembangunan suatu ibu kota baru tanpa melihat ekonomi yang ada. Tapi semua keputusan ada pada Pak Jokowi," terangnya.

Sebelum dialog berlangsung, Ahok menerima nama kehormatan dari warga Dayak Kaltim. Diberikan Dewan Adat Dayak Kaltim.

Ahok mendapat gelar Asang Lalung. Nama tersebut maksudnya tokoh muda, teguh dan perkasa. Juga pengayom yang ikhlas mengabdi dalam memperjuangkan masyarakat. Sedangkan Puput mendapat gelar Idang Purnama yang berarti cahaya purnama.

Dalam kesempatan itu hadir pula Ketua Umum Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur (DADKT) Edy Gunawan Areq Ling,  Kepala Adat Besar Dayak Ajang Kadung, ketua PDKT se Kaltim dan oara tokoh adat Dayak.(kmf2)

Penulis/editor: Doni

Mendikbud Apresiasi Samarinda

Berita Sebelumnya

KTNA Diharap Mampu Genjot Sektor Pertanian

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar