26 Kali

SAMARINDA. Siapakah Abdoel Moies Hassan ? Dia adalah  satu dari pejuang yang bergerak dalam jalur diplomasi politik di Samarinda.  Pemuda yang berusia 21 tahun ketika kemerdekaan Negara Indonesia diproklamasikan 1945 itu turut serta dalam usaha Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI) di Samarinda. 

Kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur masa kini merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Proses integrasi itu dalam sejarahnya tidaklah berlangsung secara mudah atau dalam alur yang datar. 

Ada gejolak, konflik, gerakan diplomasi politik dan gerakan bersenjata di dalamnya setelah Proklamasi Sukarno Hatta 17 Agustus 1945. Sikap rakyat Samarinda yang mendukung RI mendapat hambatan, tantangan, dan ancaman dari NICA yang memiliki aparat sipil, kepolisian, dan militer. Kondisi ini terjadi selama empat tahun sejak 1945 hingga 1949 pada posisi ini lah yang konsisten berada dalam jalur perjuangan pro RI, siapa yang pasang surut dalam membela RI, dan siapa yang memang pro belanda secara jelas.

Fakta sejarah itu diungkap Muhammad Sarip, koordinator Tim Perumus Usulan Calon Pahlawan Nasional Abdul Moeis Hassan dalam buku bertajuk Abdoel Moeis Hassan Pejuang Republiken dan Pelopor Pembaharuan Di Kalimantan Timur pada Rapat Usulan Abdul Moeis Hassan sebagai Pahlawan Nasional di ruang rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Senin (18/2). 

“Banyak pihak yang membantu kami dalam penyusunan buku ini secara langsung maupun tidak langsung,” ujar Sarip

Sekda Sugeng Chairuddin mengungkapkan Pasal 30 ayat (2) UU No. 20/2009 dan Pasal 51 ayat (1) PP No. 35/2010 menyebut bahwa usul pemberian gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan dapat diajukan oleh perseorangan, lembaga negara, kementrian, lembaga pemerintah non-kemen trian, pemerintah daerah, organisasi, atau kelompok masyarakat.

Menurutnya harus melalui syarat-syarat yang sudah tertuang dalam UU. Salah satunya yaitu menggelar Seminar Nasional.

“Kita akan berusaha untuk mencari dukungan untuk melaksanakan Seminar ini, kalau perlu Bank Indonesia yang akan menjadi tempat pelaksanaan kegiatan tersebut. Mudahan bisa mendapat dukungan,” harap Sugeng.

Taufik Siradjudin Moeis, putra ketiga almarhum Abdoel Moeis Hassan, juga berkenan memberikan informasi dan beberapa koleksi foto, demikian pula Hamzah selaku informan dan saksi peristiwa secara terbuka mengungkapkan kejadian krusial pada zamannya.

Adapun para pihak yang terlibat dalam pembuatan buku demi terwujudnya Abdoel Moeis Hasan sebagai Pahlawan Nasional, antara lain Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang KaltimMhammad Asli Amin,  Kolektor Pustaka Klasik Rudolf Albert Kroll, Fajar Alam dan Arief Rahman (Pengurus Lasaloka-KSB), Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman  Aksan Al-Bimawi, Kepala Bidang Aplikasi dan Layanan E-Government Diskominfo Samarinda Suparmin, Kepala Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Samarinda  Slamet Diyono, Kepala Bidang Informasi dan Otomasi Layanan Badan Perpustakaan Prov. Kaltim Taufik.(Kmf7)

Penulis: Akbar

Jadi Tradisi, 9 Barongsai Ikut Arakan Keliling Kota

Berita Sebelumnya

Ide Brilian Generasi Millenial Warnai APBD 2020

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar