273 Kali

SAMARINDA, KOMINFONEWS- Wakil Wali Kota Samarinda, Dr. H. Rusmadi sebagai Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kota Samarinda menjadi narasumber dalam peluncuran dan diskusi buku "Sungai Mahakam dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda" karya sejarawan Kaltim Muhammad Sarip, kamis (22/09/2022) di ruang Perpustakaan kota Samarinda Jl. Kesuma Bangsa No. 5. 

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan kota Samarinda Asli Nuryadin, Kepala Perpustakaan kota Samarinda Erham Yusuf, Sekretaris Perpustakaan kota Samarinda Nurhikmah, dan tentunya sang penulis buku Muhammad Sarip sendiri. Sebagai pembawa acara dipercayakan kepada Violetha Yusthina dari RCTI. 

Muhammad Sarip dalam paparan singkatnya mengenai tema buku mengatakan bahwa  Bappenas menyebutkan Samarinda merupakan jantung pusat sejarah di Kalimantan Timur. Hal ini menarik lantaran Samarinda merupakan wilayah yang tidak terdapat peninggalan sejarah yang terkenal ataupun pusat kerajaan sebagaimana kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur. 

Namun menurut pembina Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kota Samarinda ini, hal tersebut bisa diambil hikmahnya, mengingat Samarinda merupakan pusat perdagangan yang dilakukan oleh para saudagar lintas pulau dan lintas daerah. Sehingga kota tepian ini menjadi salah satu sentral kegiatan perekonomian bahkan kebudayaan negeri ini. 

Dia mengingatkan juga fakta sejarah industri perkayuan yang pernah Booming di Kalimantan Timur. Baik itu saat penebangan kayu besar-besaran yang disebut "Banjir Kap" maupun maraknya  industri kayu lapis (plywood), Samarinda juga menjadi pusat aktifitas perdagangan yang sangat ramai. Hal ini berlangsung cukup lama. 


Sebagai narasumber, dalam paparannya Wakil Wali Kota Rusmadi mengatakan, bahwa dalam buku karya Muhammad Sarip ini terungkap, betapa pentingnya kota Samarinda dalam perkembangan sejarah peradaban Kalimantan Timur bahkan Nusantara. Sungai Mahakam yang mengalir membelah kota Samarinda menjadi urat nadi perkembangan daerah ini. 

"Oleh karena itu sangat wajar bila kemudian Ibu Kota Negara ada nya di Kalimantan Timur," ujar Rusmadi disambut tepuk tangan hadirin. 

Menurut Rusmadi, dalam berbagai kesempatan dia sering mengatakan bahwa Samarinda dengan Sungai Mahakamnya merupakan "Shanghai Masa depan". Dalam artian kota ini bisa menjadi kota yang maju dan indah seperti kota Shanghai yang saat ini sangat terkenal. 

Mengapa diumpamakan dengan Shanghai, bukan Singapura atau kota-kota besar lainya di dunia? Menurut Rusmadi paling tidak ada dua kemiripan antara Samarinda dengan Shanghai. Pertama, Shanghai merupakan kota yang heterogen, demikian halnya Samarinda. Bahkan mayoritas penduduk Samarinda adalah pendatang. 

Kedua ujar Rusmadi, Shanghai memiliki sungai Huangpu yang membelah kota ini menjadi dua kawasan yakni Pudong (timur) dan Puxi (barat). Demikian pula Samarinda yang dibelah oleh sungai Mahakam yang memisahkan kawasan pusat kota Samarinda dengan wilayah Samarinda Seberang. 

"Sungai Mahakam adalah anugerah Allah yang sangat indah. Kewajiban kita untuk mensyukuri dengan menjaga dan merawatnya," tegas Rusmadi.


Sebelumnya, Kepala Perpustakaan kota Samarinda Erham Yusuf dalam sambutannya, mengapresiasi peluncuran buku "Sungai Mahakam dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda" karya Muhammad Sarip yang mengambil tempat di perpustakaan kota Samarinda. Padahal ujarnya, penerbitan buku ini merupakan program Dinas Pendidikan kota Samarinda. 

Dalam kesempatan ini dia juga memberi kesempatan kepada siapapun menggunakan ruang yang ada di perpustakaan sebagai tempat untuk mengadakan berbagai kegiatan literasi tanpa dipungut biaya sewa. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mendekatkan masyarakat dengan buku dan perpustakaan. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Asli Nuryadin dalam prolog diskusi dan peluncuran buku menyampaikan, penerbitan buku ini merupakan bagian dari program Dinas Pendidikan dalam memberikan akses kepada masyarakat terhadap sejarah lokal di tahun 2022. Ada beberapa buku yang diterbitkan, dan salah satunya adalah buku karya Muhammad Sarip ini.

Acara diakhiri dengan diskusi dan pembagian buku kepada para peserta yang hadir. Dalam sesi ini berbagai pertanyaan soal sejarah, bahkan harapan terhadap pemerintah disampaikan oleh para pegiat literasi dan tokoh-tokoh komunitas yang hadir. (ASYA/KMF-SMR)

Gelar High Level Meeting, TPID Samarinda Bahas Strategi Atasi Risiko Inflasi

Berita Sebelumnya

Serahkan Pro Bebaya di Citra Niaga Wali Kota Akan Bangun Chinatown

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Berita PPID

Tinggalkan Komentar