273 Kali

SAMARINDA.KOMINFONEWS- Wali Kota Samarinda  yang diwakili oleh Plt. Assisten II Sam Syaimun, SE membuka kegiatan Kick Off Program AF (Adaptation Fund) sekaligus mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi atas inisiasi adanya proyek AF oleh pihak-pihak terkait terkhusus kepada Adaptation Fund dan Direktur Pusat Studi Ketahanan Iklim Kota Untag Surabaya, yang dilakukan melalui Zoom Meeting Senin (21/11/2022).

Dalam kesempatan ini turut hadir dua narasumber kampanye pencegahan perubahan iklim Dr. Mirko Guaralda (Ph.D., Mhed, Darch) Associate Professor At The Queensland University Of Technology, dan Abimanyu S. Aji - Manager Program Pendanaan Perubahan Iklim (Kemitraan). 

Hadir pula Dr. Retno Hastianti, MT. - Direktur Pusat Studi Ketahanan Iklim dan Kota Untag Surabaya, DR. Ir. Oswar Mungkasa – Dewan Pembina Pusat Studi Ketahanan Iklim Dan Kota (selaku Moderator), Laode M. Syarif, SH, LL.M., Ph.D. – Direktur Eksekutif Kemitraan, Direktur Jendral Pengendalian Perubahan Iklim, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, serta Kepala OPD Kota Samarinda yang terkait.

Menurut Wali Kota Andi Harun melalui sambutannya yang disampaikan oleh Sam Syaimun, untuk mendukung suksesnya program AF ini, diharapkan peran serta dari masyarakat untuk bersama-sama mengawasi, menjaga, serta merawat lingkungan sekitar dalam meminimalisir dampak perubahan iklim yang terjadi.


“Saya sangat menyambut baik hal ini karena dinilai penting untuk banyak pihak agar dapat hadir dan berperan aktif dalam pelaksanaan kampanye pencegahan perubahan iklim di Indonesia khususnya di kota Samarinda. Saya yakin kehadiran Adaptation Fund di Indonesia bertujuan untuk mendorong lebih banyak masyarakat dalam beradaptasi pada perubahan iklim demi memenuhi kebutuhan pangan, sumberdaya alam, air dan lainnya tanpa merusak ekosistem yang ada.” Ucap Sam Syaimun saat menyampaikan sambutan Wali Kota Samarinda.

Adaptation Fund merupakan program dukungan pembiayaan proyek dan program yang membantu masyarakat rentan di negara berkembang untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang didirikan berdasarkan protokol Kyoto dari konvensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC).

Sementara itu Associate Professor At The Queensland University Of Technology Mirko Guaralda menjelaskan bahwa Project ini merupakan projek multidisipliner, Tidak hanya menyangkut perubahan iklim, tapi juga menyangkut aspek ekonomi dan aspek lain yang terkait. Ini yang menjadi dorongan AF (Adaptation Fund) untuk menyetujui proyek ini. Karena ini the only one in AF Pipelines. 

Dengan menggunakan Kerangka teori Positive Development, perspektif ini digunakan sebagai titik tolak bahwa pembangunan dengan manusia sebagai pusatnya, dimana pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana manusia dapat merasakan dampak pembangunan melalui ruang publik yang ramah.


“Ruang Publik Sirkuler yang akan dikembangkan di Samarinda nantinya adalah ruang publik yang produktif. Ruang publik ini didasari pada paradigma bahwa ada 3 elemen penting dalam pembangunan, yakni manusia, bumi dan kesejahteraan. Ruang publik ini diharapkan dapat melipatgandakan dan berkontribusi dalam menciptakan keseimbangan ekologis. Project ini juga akan mendorong pengembangan ruang publik yang memfasilitasi produksi energi terbaru, produksi air bersih yang berkelanjutan dan pengelolaan limbah.”Jelas Mirko Guaralda.

Dijelaskan, Visi projek ini adalah menciptakan ruang publik yang mendukung aktivitas masyarakat dalam menghadapi dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dengan tujuan untuk mengembangkan tipologi baru dari ruang publik yang memberikan solusi dan Teknik yang memiliki kemampuan meningkatkan kualitas lingkungan.  

Pendekatan yang akan dilakukan dalam project ini adalah penguatan masyarakat dalam menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Tipologi "Climate Adaptive" akan diujicobakan di Samarinda dalam bentuk ruang publik multiguna. Strategi dan Sarana yang akan diterapkan ada 3, yakni: Resiliensi, Respon dan Pemulihan (Recovery). Secara ringkas, Project ini akan melibatkan ; Teknologi untuk mendapatkan desain yang paling tepat melalui co-design dengan pihak pelaksana dan masyarakat, 


Sebuah area ruang publik sebagai pilot project, serta Panduan desain (rancangan) dengan prinsip low cost-high impact (berbiaya rendah-berdampak tinggi) dan penciptaan jaringan yang kuat untuk penanggulangan banjir.

Untuk keberlanjutannya, melalui projek ini akan dikembangkan kemitraan yang saling mendukung antara pihak pemerintah, masyarakat dan swasta. Diharapkannya kota Samarinda dari 10 kota yang ada di Kalimantan Timur bukan saja menjadi Pilot Project tetapi juga menjadi champion di Indonesia untuk bisa menjadi pusat pembelajaran dari kota-kota lainnya bagaimana membangun ruang public yang tanggap terhadap perubahan iklim, dan juga salah satu alasan proyek AF didorong untuk dilaksanakan di Samarinda adalah karena adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara di PPU. (TAM/KMF-SMR)

APBD TA 2023 Rp 3,9 Triliun Disetujui, Andi Harun Beri Sinyal Honor Guru dan Gaji Non ASN Ditingkatkan

Berita Sebelumnya

Forkopimda Samarinda Ikuti Rapat dengan Mendagri Bahas Inflasi, Samarinda Masuk 10 Kota Dengan Realisasi Pendapatan APBD Terbaik

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar