171 Kali

SAMARINDA. BPJS Kesehatan Samarinda beberkan pengeluaran selama tahun 2019. Dimana untuk penyakit Katastropik atau penyakit perlu perawatan khusus, berbiaya tinggi yang paling banyak membebani anggaran dari BPJS Kesehatan, yakni sebesar Rp 174 Milyar atau 21,9 persen dari total dana pelayanan yang digunakan tahun lalu.

 

Kepala Cabang BPJS Samarinda, Mangisi Raja Simarmata mengatakan ada 8 jenis penyakit Katastropik yang dianggap cukup banyak menguras anggaran BPJS diantaranya adalah penyakit jantung.

 

Ia mengungkapkan untuk membayar klaim penyakit jantung saja, BPJS Kesehatan menggelontorkan dana sampai Rp 84 Milyar. Lalu untuk penyakit Kanker dikeluarkan uang senilai Rp 52 Milyar. Kemudian BPJS Kesehatan juga mencatat, pembayaran untuk pengobatan atau klaim penyakit stroke mencapai Rp 19 Milyar.

 

“Adapun untuk kasus gagal ginjal dikucurkan Rp 4,3 Milyar. Sementara untuk penyakit Leukaemia dibayarkan klaim sebesar Rp 4,3 Milyar. Jadi kalau ditotal untuk membiayai jenis penyakit ini tadi selama tahun kemarin menyentuh angka Rp 174 Milyar,” ungkapnya dalam Rapat Pertemuan Forum Komunikasi dan Kemitraan Pemangku Kepentingan melalui virtual, Selasa (18/08).

 

Selain itu, ia juga mencatat hingga Juli 2020 biaya pelayanan atau berobat yang telah dibayarkan ke fasilitas kesehatan telah mencapai Rp 452 Milyar. Sementara penerimaan iuran baru mencapai Rp 200 Milyar. Melihat angka tadi ia mengakui pihaknya masih mengalami defisit. Sebab, penerimaan total dana iuran dalam tujuh bulan tak sebanding dengan pembayaran klaim kepada fasilitas kesehatan yang jadi mitra BPJS Kesehatan.

 

“Jadi walaupun tidak sebanding tapi kami pastikan pelayanan tetap masih berjalan, karena untuk menutupi kekurangan tadi alhamdulillah di BPJS sendiri masih ada azas gotong-royong dengan melakukan subsidi silang dengan daerah lain. Jadi harapan kita dengan kondisi ini setidaknya secara tidak langsung Pemkot bisa ikut berperan dalam membantu untuk meminimalisir beban biaya yang ditanggung BPJS,” urainya.

 

Sementara, Sekretaris Daerah Samarinda Sugeng Chairuddin ketika memimpin rapat tersebut memberikan apresiasi kepada kinerja BPJS dimana dalam kondisi keuangan yang cukup sulit tapi masih mengutamakan pelayanan kesehatan bagi warga Kota Tepian.

 

Ia mengakui, bukan hal yang mudah untuk

menyelesaikan kondisi keuangan yang dialami BPJS saat ini, dimana pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan melalui iuran yang wajib dibayar warga maupun biaya yang dibebankan ke Pemerintah.

 

“Saya lihat memang terjadi gap dan pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan. Untuk meminimalisir ini memang perlu trik khusus,” kata Sekda.

 

Tapi sambung dia, kalau semua dibebankan ke Pemerintah juga sangat berat, apalagi di masa pandemi saat ini ada pemotongan dan pengalihan anggaran yang memang sesuai intruksi dari pusat.

 

“Jadi Pemkot memang ada anggaranya, tapi begitu turun langsung terbagi-bagi untuk masing-masing pos yang telah ditentukan. Sebenarnya harapan kita sih kalau bisa anggaran dari pusat memang sudah terpotong untuk iuran BPJS, jadi kita di daerah tidak pusing lagi memikirkan ,” harap Sekda. (cha/don/kmf-smd)



Barkati Salurkan Bantuan CSR Untuk Tanggap Banjir dan Kebakaran di Sidodadi Dari PLN

Berita Sebelumnya

Peringatan Kontrasepsi Sedunia di Puskesmas Palaran, Pelayanan MKJP Diluncurkan

Berita Selanjutnya

Yang Lain di Kesehatan

Tinggalkan Komentar