62 Kali

SAMARINDA. Kota Samarinda tercatat di tahun 2019 memiliki populasi sebanyak 872.770 dan luas sebesar 718 km persegi, bahwa Kota Samarinda adalah termasuk Kota Metropolis yang sama luasnya seperti negara tetangga yaitu Singapura. Hanya saja Singapura memiliki populasi sebesar 5 juta orang.

 

Hari ini United Cities Local Governments Asia Pasific (UCLG-ASPAC) atau organisasi pemerintahan kota Internasional Asia Pasific menggelar Konsultasi Publik Kajian Perkotaan Banjarmasin dan Samarinda, Kamis (16/09).

 

Digelarnya konsultasi ini bertujuan untuk memberikan kerjasama dan belajar antara kota satu dan kota lain dengan harapan memberikan sistem yang bagus dan membantu kota untuk lebih tangguh mengadaptasikan dalam perubahan iklim.

 

“Kajian perkotaan adalah modal awal bagi kita untuk membangun kota yang berketahanan iklim. Hal ini juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia terhadap perjanjian Paris,” kata Arif Wibowo Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim sekaligus membuka konsultasi tersebut.

 

Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chairuddin mengungkapkan beberapa program pengendalian banjir juga telah ada, termasuk juga program kampung iklim.

 

“Banyak program-program yang sudah ada di Kota Samarinda salah satunya Walikota Samarinda menerbitkan Perwali Nomor 1 Tahun 2019 tentang Pengurangan Kantong Plastik, ada juga program masyarakat yang akan menikah dan pejabat yang akan dipromosikan naik jabatan wajib memberikan tanaman ke kecamatan,” ungkap Sugeng.

 

Selain itu Samarinda kini menjadi kota yang sudah memilik RAD untuk Penurunan Gas Rumah Kaca. Selanjutnya narasumber ahli perkotaan UCLG-ASPAC Mulya Amir memaparkan Kota Banjarmasin sangat rentan terhadap bencana terutama kebakaran dan banjir. Hal ini dapat dilihat melalui persentase data bencana utama banjir 21,6%, kebakaran 21,6%, kekeringan 14,4%, cuaca ekstrim 13,6%, gempa bumi 10,8%, tsunami 7,2%, tanah longsor 7,2%.

 

Tantangan dan isu strategis yang ditemui Kota Banjarmasin yakni penurunan kualitas udara pemicunya adalah sektor transportasi dan kebakaran hutan dari wilayah tetangga, pengelolahan sampah, penggunaan lahan dan kawasan RTH yang belum optimal, serta pemukiman informal.

 

“Inilah mengapa kita memilih Kota Banjarmasin dan Samarinda menjadi objek kita, karena permasalahan kedua kota ini tidak jauh berbeda yaitu banjir,” kata Mulya Amir.

 

Beralih ke Kota Samarinda yang memiliki sebagian besar dataran rendah, dikelilingi oleh kabupaten kaya akan gas dan mineral, berada di sekitar 20 aliran sungai. Tantangan dan isu strategis yang dihadapi oleh Samarinda yakni penggunaan lahan yang belum berkelanjutan, kualitas udara (transportasi penyumbang terbesar GRK), penyedian air bersih belum merata, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah melebihi kapasitas.

 

“Kita akui memang TPA kita yang berada di Bukit Pinang telah melebihi kapasitas. Untuk itu kita pindah ke TPA Sambutan, pembebasan lahan untuk jalan aksesnya sedang kita rampungkan tahun ini,” kata Sugeng.

 

Apabila dilihat permasalahnya, Kota Samarinda bisa cepat menyelesaikan permasalah lebih cepat. Karena pertama, program mengatasi banjir Sungai Karang Mumus (SKM) cepat terselesaikan. Kedua bisa menekan jumlah pembuangan sampah per hari.

 

“Kalau ini bisa terselesaikan dengan cepat, maka Kota Samarinda menjadi percontohan bagi 10 kota percontohan lainnya,” pungkas Putra Dwitama UCLG ASPAC. (bar/don/kmf-smd)





KPU Gelar Sosialisasi Kampanye Pilkada, Asisten I Usulkan Pakta Integritas Protokol Kesehatan Covid-19

Berita Sebelumnya

Barkati Kukuhkan Relawan Kebakaran Samarinda Kota

Berita Selanjutnya

Tinggalkan Komentar